Kekayaan Miliarder Dunia Naik Rp 35.000 Triliun sepanjang 2025

Bloomberg mencatat kekayaan 500 miliarder dunia naik USD 2,2 triliun di 2025, ditopang reli kripto, saham, dan logam mulia.

Diterbitkan 01 Januari 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekayaan para miliarder dunia melonjak tajam sepanjang 2025. Data Bloomberg Billionaires Index mencatat, 500 orang terkaya di dunia menambah kekayaan hingga USD 2,2 triliun atau sekitar Rp 35.000 triliun sepanjang tahun lalu, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (1/1/2026), tambahan kekayaan para orang terkaya di dunia ini membuat total harta gabungan 500 miliarder dunia mencapai USD 11,9 triliun. Lonjakan ini ditopang berbagai faktor, mulai dari kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2024 hingga reli pasar aset seperti kripto, saham, dan logam mulia.

Menariknya, sekitar seperempat dari total kenaikan kekayaan tersebut hanya dinikmati oleh delapan miliarder, di antaranya Elon Musk, Jeff Bezos, Chairman Oracle Larry Ellison, serta pendiri Alphabet Larry Page.

Meski demikian, konsentrasi kekayaan pada 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan 2024, ketika delapan orang yang sama menyumbang 43% dari total kenaikan kekayaan 500 miliarder dunia.

Larry Ellison menjadi salah satu miliarder dengan kenaikan signifikan. Kekayaannya bertambah USD 57,7 miliar sepanjang 2025, sehingga total hartanya mencapai USD 249,8 miliar.

Sementara itu, Elon Musk mencatat lonjakan terbesar. Kekayaan bos Tesla dan SpaceX itu melonjak USD 190,3 miliar menjadi USD 622,7 miliar, menjadikannya orang terkaya di dunia dengan selisih yang semakin lebar.

 

Tak Semua Miliarder Untung, Ketimpangan Jadi Sorotan

Di sisi lain, tidak semua miliarder menikmati pertumbuhan kekayaan. Sejumlah orang justru mengalami penurunan harta, termasuk miliarder Filipina Manuel Villar. Kekayaannya menyusut USD 12,6 miliar hingga tersisa sekitar USD 10 miliar.

Penurunan tersebut terjadi setelah saham perusahaan pengembang propertinya, Golden MV Holdings Inc, anjlok hingga 80% usai masa penghentian perdagangan selama enam bulan berakhir.

Sementara itu, laporan ini kembali memantik sorotan soal ketimpangan ekonomi global. Organisasi nonpemerintah internasional Oxfam menilai, tambahan kekayaan USD 2,2 triliun yang dinikmati 500 orang terkaya dunia sebenarnya cukup untuk mengangkat sekitar 3,8 miliar orang keluar dari kemiskinan.

“Ketimpangan merupakan hasil dari pilihan kebijakan yang disengaja. Di tengah rekor kekayaan kelompok teratas, kekayaan publik justru stagnan, bahkan menurun, sementara tekanan utang terus meningkat,” ujar Direktur Eksekutif Internasional Oxfam, Amitabh Behar, dalam pernyataannya.

Lonjakan kekayaan para miliarder di tengah tantangan ekonomi global ini kembali menegaskan jurang ketimpangan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi banyak negara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6