Bank Dunia Sebut Bencana Sumatera Bisa Ganggu Ekonomi Indonesia

Bank Dunia dongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% pada 2025 dan 2026.

Diterbitkan 16 Desember 2025, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Dunia melihat bencana Sumatera akan mengganggu kinerja ekonomi Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang bisa berdampak pada pergerakan ekonomi nasional. Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, David Knight menerangkan bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dapat menjadi risiko yang mengganggu ekonomi Tanah Air.

"Terkait dengan risiko yang merupakan risiko penurunan atau downside risk, tentunya bencana alam seperti banjir bandang yang terjadi di Sumatera dan juga beberapa lokasi lainnya pun juga akan berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian di Indonesia," kata David dalam peluncuran laporan Indonesia Economic Prospect (IEP) Desember 2025, di Jakart, Selasa (16/12/2025).

Sementara itu, risiko positif yang bisa mengerek ekonomi Indonesia seperti hubungan pergadangan Indonesia dengan China. Kemudian, peningkatan dari komoditas andalan ekspor Indonesia.

Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% untuk 2025 dan 2026. Proyeksi ekonomi meningkat lebih tinggi lagi menjadi 5,2 persen pada 2027 mendatang. Faktornya disinyalir datang dari investasi, hingga ekspor.

Bencana Sumatera menyisakan cukup besar dampak. Pemerintah membutuhkan sekitar Rp 51,2 triliun untuk pemulihan infrastruktur di tiga provinsi. Itu belum termasuk menanggung kerusakan dari 112 ribu rumah yang rusak bahkan hancur.

Ekonomi RI Tumbuh 5% Tahun Ini

Sebelumnya, Bank Dunia ramal pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5% pada 2025 dan 2026 mendatang. Ada sejumlah faktor yang dinilai mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi ini.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi itu saat merilis Indonesia Economic Prospects (IEP) versi Desember 2025. 

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5% secara tahunan, yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dan ini melebihi rata-rata negara berpendapatan menengah. Jadi ini kabar baik," kata Carolyn dalam IEP Desember 2025, di Jakarta, Selasa, 16 Desember 2025.

 

Angka Pertumbuhan Ekonomi RI Naik

Dalam laporan IEP versi Desember 2025, Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5%. Kemudian, naik menjadi 5,2% di 2027 mendatang. Angka ini naik dari proyeksi pada IEP versi Juni 2025 dengan 4,7%, serta laporan Perkembangan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang dirilis Oktober 2025 dengan perkiraan 4,8%.

Carolyn menuturkan, pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh kinerja ekspor dan investasi ditengah pelemahan konsumsi pribadi. Kemudian ada peran peningkatan produksi sektor agrikultur dan stimulus yang diberikan.

Kendati begitu, secara umum Carolyn melihat proyeksi ekonomi tumbuh kebih moderat karena adanya kebijakan tarif. "Mengapa begitu? Tarif, kalian semua akan sadar tarif menjadi fitur yang lebih dominan dalam ekosistem pemasaran.Tarif sekarang semakin banyak ditanggung oleh konsumen," tuturnya.

 

Soal Gaji Pekerja Indonesia, Bank Dunia Soroti Upah Murah Meski Ekonomi Tumbuh Positif

Sebelumnya, Bank Dunia mencatat aspek kesejahteraan warga dari sisi penerimaan upah masih rendah, meskipun pertumbuhan ekonomi nasional diklaim cukup positif. Bank Dunia mencatat, banyak pekerjaan baru yang muncul di Tanah Air, namun mayoritas sektor informal.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk menilai kondisi tersebut merupakan tantangan bagi pasar tenaga kerja di Indonesia.

"Indikator pasar tenaga kerja menunjukkan adanya tantangan yang berkelanjutan dalam kualitas pekerjaan, khususnya bagi generasi muda di negara ini," kata Carolyn dalam peluncuran laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) Desember 2025, di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Dia turut merujuk pada data bertambahnya 1,3 % lapangan kerja pada Agustus 2025 dari Agustus 2024. Namun, lapangan kerja itu muncul dari sektor-sektor dengan upah yang relatif rendah.

"Kami juga mengamati bahwa upah riil cenderung menurun sejak 2018 dan pekerjaan dengan keterampilan menengah menyusut dibandingkan dengan pekerjaan berketerampilan rendah maupun tinggi, sehingga segmen keterampilan menengah semakin menyempit. Pola-pola ini menekan konsumsi rumah tangga meskipun indikator makroekonomi utama tetap solid dan kuat," jelas dia.

Untuk itu, dia menyarankan Indonesia memadukan stabilitas makroekonomi dengan reformasi struktural yang lebih mendalam. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan kapasitas perekonomian dan memungkinkan sektor swasta menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6