BI-Fast Hemat Transaksi Konsumen hingga Rp 18 Triliun Sejak 2021

Bank Indonesia (BI) menyatakan BI-Fast termasuk fasilitas sistem pembayaran yang dipakai 24 jam dalam 7 hari.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 10:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan layanan sistem pembayaran BI-Fast memberikan efisiensi signifikan bagi masyarakat sejak pertama kali diluncurkan pada akhir 2021. Destry menjelaskan, BI-Fast merupakan infrastruktur pembayaran real-time yang beroperasi tanpa henti. 

“BI Fast itu adalah infrastruktur sistem pembayaran kita, atau fasilitas sistem pembayaran yang dipakai 24 jam 7 hari. Artinya, tidak ada berhenti sama sekali. Dia terus bergulir,” ujarnya dalam acara Financial Forum 2025 CNBC, Rabu (3/12/2025).

Menurut Destry, biaya transaksi perbankan sebelum BI-Fast dapat mencapai Rp 6.500, sementara melalui BI-Fast pengguna cukup membayar Rp 2.500. Sejak beroperasi, sistem tersebut telah memproses 4,5 miliar transaksi. 

“Dan sekarang kalau kita lihat, sejak BI Fast itu berdiri di akhir 2021, itu sudah ada 4,5 miliar transaksi pada posisi sekarang ini,” jelas Destry.

Ia menambahkan, total penghematan yang dinikmati konsumen sejak 2021 telah mencapai Rp 18 triliun. BI memperkirakan transaksi BI-Fast akan meningkat menjadi 13 miliar pada 2030. Dengan kenaikan itu, potensi penghematan diperkirakan dapat mencapai Rp 22 triliun.

Destry juga mengatakan penguatan kebijakan pembayaran menjadi prioritas BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. 

“Kami punya kebijakan sisi pembayaran, kebijakan sisi pembayaran, kita harus berusaha memperkuat sistem pembayaran kita. Jadi, mungkin Bapak-Ibu sekalian sekarang semua udah ngasih dengan namanya QRIS,” ujarnya.

QRIS yang diluncurkan pada 17 Agustus 2019 kini telah diadopsi luas oleh masyarakat dan pelaku usaha. Sebanyak 58,3 juta pengguna tercatat hingga saat ini, dengan jumlah merchant mencapai 41,2 juta, di mana 94% di antaranya adalah UMKM. Destry menekankan manfaat besar bagi usaha kecil. 

“Jadi, kita terus bersama-sama dengan Asosiasi Pembayaran Indonesia, kita bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kemudahan sisi pembayaran dan khususnya untuk UMKM yang kecil, itu bahkan kalau merchant mereka tidak setakat, tidak ada karena pembayaran tidak ada fee,” pungkasnya.

 

Bos BI Perry Warjiyo: BI Fast Jadi Sistem Pembayaran Termurah di Dunia

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan layanan Bank Indonesia Fast Payment (BI Fast) merupakan salah satu sistem pembayaran paling efisien di dunia.

"Belum lagi BI FAST. BI Fast Rp 2.500 per transaksi," kata Perry dalam acara FEKDI dan IFSE 2025, di JCC, Jakarta, Kamis (30/10/2025).

Perry menyebut, dengan biaya hanya Rp 2.500 per transaksi, sistem ini disebut jauh lebih murah dibanding rata-rata biaya transaksi global yang mencapai 25–30 sen dolar AS.

"Rp 2.500 itu kalau kita dalam bentuk dollar itu one of the murah banget dari the cheapest transaksi di dunia. Karena kalau dipikirkan hampir paling 25 cent atau 30 cent per transaksi. One of the most efficient transaksi BI FAST di dunia," ujarnya.

Selain murah, BI juga memberikan kebijakan istimewa bagi masyarakat dengan membebaskan biaya untuk transaksi di bawah Rp 500 ribu. Kebijakan ini, kata Perry, menjadi bukti nyata keberpihakan Bank Indonesia terhadap ekonomi rakyat dan pelaku usaha kecil.

"Itu pun yang transaksi sampai dengan Rp 500.000 kita gratiskan, merchant-merchant kita bebas MBR 0 persen," ujarnya.

Efisiensi Sistem Pembayaran

Perry menjelaskan, BI Fast merupakan bagian penting dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2019 yang dirancang untuk mendorong digitalisasi ekonomi nasional.

Melalui sistem ini, Bank Indonesia berupaya mempercepat konektivitas antarbank dan memperluas akses pembayaran digital bagi seluruh lapisan masyarakat. Efisiensi biaya dan kecepatan proses menjadi daya tarik utama BI Fast dalam mendukung kegiatan ekonomi digital.

"Semuanya ini adalah blueprint sistem pembayaran Indonesia yang menyatukan satu visi, satu strategi, dan juga program," ujarnya.

Sinergi Digitalisasi untuk Visi Indonesia 2030

Perry menyebut, BI Fast merupakan salah satu komponen utama dalam visi besar ekonomi digital Indonesia menuju 2030. Dengan infrastruktur yang kuat dan efisien, Indonesia diyakini dapat menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di dunia.

Ia mengungkapkan, saat ini volume transaksi digital di Indonesia telah mencapai 37 miliar transaksi per tahun dengan nilai sekitar Rp 500 ribu triliun dan diproyeksikan meningkat empat kali lipat dalam lima tahun ke depan.

"Kami perkirakan yang sekarang EKD, ekonomi keuangan digital, volume transaksinya 37 miliar transaksi akan naik 4 kali lipat. Mana tepuk tangannya. 147,3 miliar transaksi," pungkasnya

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6