Listrik Indonesia Masih Bergantung ke Energi Fosil, Batu Bara Tertinggi

Kementerian ESDM mencatat energi fosil masih memegang porsi terbesar. Porsinya mencapai 85,6 persen.

Diterbitkan 13 November 2025, 21:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat energi fosil masih menjadi penopang utama listrik di Indonesia. Porsi batu bara bahkan masih menjadi yang paling besar saat ini.

Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan energi fosil masih memegang porsi paling besar. 

"Struktur dalam sistem pembangkit kita masih menunjukkan ketergantungan pada energi fosil, khususnya batu bara yang hingga kini masih menjadi andalan baseload pembangkit beban dasar yang beroperasi 24 jam untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik nasional," kata Tri dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR, di Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Data yang dimilikinya mencatat porsi energi fosil secara keseluruhan mencapai 91,76 gigawatt (GW) atau 85,6 persen. Bahkan, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara memiliki kapasitas sekitar 59,07 Gigawatt (GW) atau 55,1 persen dari total pembangkit listrik di Indonesia. 

Ada pula pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), pembangkit listrik gas uap (PLTGU), pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG), dan pembangkit listrik tenaga mesin gas dan uap (PLTMGU). Secara akumulasi, kapasitasnya sekitar 26,28 GW atau 24,5 persen dari total pembangkit listrik di Indonesia.

"Tapi kita tidak bisa menutup juga bahwa tuntutan dekarbonisasi semakin menguat, baik dari sisi kebijakan nasional maupun dinamika ekonomi global," ucap dia.

PLTG Jadi Pilihan

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) ini pun mengatakan kalau PLTG bisa menopang kebutuhan listrik di kota-kota besar. Karakteristiknya dinilai mampu mengambil peran ketika ada lonjakan penggunaan listrik.

"Karakternya yang lebih fleksibel membuat PLTG mampu mengikuti perubahan beban berperan sebagai load follower sekaligus peaker ketika kebutuhan listrik melonjak tiba-tiba," kata dia.

"Fleksibilitas inilah yang kelak akan menjadi semakin penting bagi penetrasi EBT variable, seperti surya dan bayu yang terus meningkat," Tri Winarno menambahkan.

 

PLN Kebut Pembangkit EBT

Sebelumnya, PT PLN (Persero) akan mempercepat pembangunan pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT). Targetnya, kapasitasn EBT bisa meningkat 10 kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Manajer Transisi Energi PLN, Arionmaro Asi Simareme menjelaskan, target EBT tersebut telah tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Liatrik (RUPTL) 2025-2034. Pembangkit listrik tenaga surya, angin, air hingga panas bumi akan jadi fokus PLN ke depannya.

"Hampir 70 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit yang akan dibangun di RUPTL selama 10 tahun ke depan, itu 61 persen dari pembangkit energi terbarukan, dari PLTS, dari PLTB, PLTA, dan PLTP," ungkap Arion dalam Indonesia Connect by Liputan6, ditulis Sabtu (23/8/2025).

Meningkat Pesat dalam Satu Tahun

Sumber EBT itu akan digarap oleh PLN. Nantinya, akan terbangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 17 GW. Kemudian, 10 GW Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) atau angin.

"Kita sekarang lihat punya kapasitas PLTS berapa? Tidak sampai 1 gigawat, tapi dalam 10 tahun ke depan kita canangkan kita akan bangun 17 gigawat. PLTB kita juga punya berapa sekarang di Sulawesi? Itu tidak sampai juga 1 gigawat, tapi kita akan membangun 10 kali lipat," tuturnya.

"Ini memang sebagai salah satu cara agar, tadi disampaikan, listrik yang akan kita hasilkan itu lebih hijau," Arion menambahkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6