Tiga Ekonom Raih Nobel Ekonomi 2025 Berkat Teori Inovasi dan Pertumbuhan Berkelanjutan

Penghargaan Nobel Ekonomi 2025 diberikan atas kontribusi mereka dalam menjelaskan bagaimana inovasi dan kemajuan teknologi mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - The Royal Swedish Academy of Sciences resmi menganugerahkan Hadiah Nobel Ekonomi 2025 kepada tiga ekonom terkemuka: Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt.

Penghargaan bergengsi ini diberikan atas kontribusi mereka dalam menjelaskan bagaimana inovasi dan kemajuan teknologi mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan — sebuah terobosan yang dikenal dengan istilah “creative destruction” atau “destruksi kreatif”.

“Para penerima penghargaan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang pasti. Kita harus terus menjaga mekanisme yang mendasari destruksi kreatif agar tidak kembali ke masa stagnasi,” ujar Ketua Komite Hadiah Nobel Ekonomi 2025, John Hassler dalam keterangan tertulis, Selasa (14/10/2025).

Menjelaskan Akar Pertumbuhan Ekonomi Dunia

Dalam risetnya, Joel Mokyr menelusuri sejarah ekonomi dunia dan menunjukkan bahwa pertumbuhan berkelanjutan hanya terjadi ketika masyarakat mampu menggabungkan inovasi dengan pemahaman ilmiah tentang bagaimana teknologi bekerja. Ia menekankan pentingnya budaya yang terbuka terhadap ide-ide baru dan mendorong penemuan tanpa batas.

Sementara itu, Philippe Aghion dan Peter Howitt memperkenalkan model matematis yang menjelaskan konsep “destruksi kreatif”—yakni bagaimana teknologi baru menggantikan yang lama, menciptakan dinamika pasar yang terus berkembang.

Menurut penelitian mereka, inovasi yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan konflik ekonomi karena perusahaan lama kehilangan pasar. Oleh karena itu, perubahan harus dikelola secara konstruktif agar inovasi tetap mendorong kemajuan tanpa menimbulkan ketimpangan.

 

Dunia Diingatkan: Inovasi Harus Diimbangi Regulasi dan Keadilan

Ketiga ekonom ini juga menyoroti tantangan besar di era kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi. Teknologi modern memang mendorong efisiensi dan kesejahteraan, namun juga berpotensi menggantikan tenaga kerja terampil.

Mereka menekankan pentingnya regulasi yang bijak agar manfaat inovasi dapat dirasakan luas, bukan hanya oleh segelintir pihak.

Hadiah Nobel Ekonomi 2025 senilai 11 juta krona Swedia atau sekitar Rp 15 miliar diberikan setengahnya kepada Joel Mokyr, dan setengah lainnya dibagi untuk Philippe Aghion serta Peter Howitt.

Riset ketiganya kini dianggap sebagai fondasi penting dalam memahami bagaimana inovasi, ilmu pengetahuan, dan kebijakan publik harus berjalan seimbang demi menjaga pertumbuhan ekonomi dunia yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6