Restrukturisasi Utang KCIC: Rosan Pastikan Negosiasi dengan China Segera Rampung

Rosan menyebut negosiasi restrukturisasi KCIC akan rampung sebelum diumumkan ke publik, dengan fokus pada struktur keuangan yang lebih sehat.

Diterbitkan 08 Oktober 2025, 16:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa proses restrukturisasi utang proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kini tengah berlangsung. Pemerintah Indonesia bersama mitra dari China sedang menegosiasikan struktur pembiayaan baru yang lebih berkelanjutan.

"Iya, sedang berjalan (restrukturisasi) dengan pihak China, baik dengan pemerintah China (negosiasi) sedang berjalan," kata Rosan seusai menghadiri Investor Daily Summit 2025 di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (8/10/2025).

Menurut Rosan, restrukturisasi ini tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan menjadi langkah reformasi menyeluruh terhadap struktur pembiayaan proyek. Tujuannya agar potensi risiko seperti gagal bayar atau beban keuangan berlebih tidak terulang di masa depan.

"Untuk kita maunya bukan restrukturisasi yang sifatnya kemungkinan potensi problemnya ke depan itu ada. Jadi kita mau melakukan reformasi secara keseluruhan," ujarnya. "Begitu kita restrukturisasi, ke depannya tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti ini, seperti keputusan default dan lain-lain," tambahnya.

 

Proyek Strategis Nasional

Rosan tidak menutup kemungkinan bahwa proses restrukturisasi utang KCIC dapat berdampak pada rencana proyek lanjutan kereta cepat Jakarta–Surabaya. Namun, ia menegaskan bahwa hal-hal teknis mengenai proyek tersebut akan ditangani langsung oleh Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

“Kalaupun ini yang (kereta cepat) Jakarta–Surabaya dilaksanakan, strukturnya itu adalah struktur yang benar-benar sustainable," jelasnya.

Rosan menambahkan, kesepakatan restrukturisasi bersama pihak China akan diselesaikan terlebih dahulu sebelum diumumkan ke publik. Proyek kereta cepat yang menjadi salah satu proyek strategis nasional (PSN) ini memang tengah menjadi sorotan karena beban utang besar yang ditanggung PT KAI sebagai salah satu pemegang saham utama.

 

Total Biaya

Total biaya proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 118,9 triliun, termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar USD 1,2 miliar. Sejak dimulai pada 2016, proyek ini terus menjadi perhatian publik karena kompleksitas finansialnya.

KCIC merupakan perusahaan patungan antara konsorsium BUMN PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium China melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd.. Pembiayaan proyek tidak menggunakan dana APBN maupun jaminan pemerintah.

Pendanaan berasal dari pinjaman China Development Bank sebesar 75%, sedangkan 25% sisanya dari setoran modal pemegang saham.

PSBI memiliki saham 60%, terdiri atas PT KAI (58,53%), PT Wijaya Karya (33,36%), PT Perkebunan Nusantara I (1,03%), dan PT Jasa Marga (7,08%).

Sementara Beijing Yawan HSR memegang 40%, dengan komposisi CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6