Gundlach Prediksi Emas Tembus USD 4.000, Begini Strategi Investasinya

CEO DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach, semakin percaya diri pada kinerja emas. Ia bahkan menyebut simpan 25% aset di emas bukanlah hal berlebihan.

Diterbitkan 18 September 2025, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Optimisme terhadap emas terus menguat. CEO DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach menilai, investor bisa menyimpan hingga seperempat asetnya dalam bentuk emas. Jumlah ini jauh di atas rekomendasi umum yang biasanya diberikan untuk porsi investasi emas.

Perusahaan investasi yang dipimpin Gundlach tercatat mengelola aset sekitar USD 95 miliar pada akhir 2024. Dia menilai, emas akan tetap bersinar di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan, terutama akibat inflasi yang masih tinggi dan dolar AS yang semakin melemah.

"Saya hampir yakin harga emas akan ditutup di atas USD 4.000 sebelum akhir tahun ini,” ujar Gundlach kepada CNBC dalam acara Closing Bell seperti dikutip dari laman CNBC, Kamis (18/9/2025). Proyeksi tersebut mencerminkan potensi kenaikan 7 persen dari rekor harga emas saat ini.

Gundlach menambahkan, porsi 25% dalam emas bukanlah sesuatu yang berlebihan. “Itu adalah semacam langkah proteksi. Saat ini emas berada dalam fase positif karena dolar AS yang melemah, dan saya percaya fase ini akan berlanjut,” jelasnya.

 

Prospek Inflasi Masih Tak Pasti

Ketika dolar AS melemah, harga emas yang dihitung dalam dolar AS tampak lebih menarik bagi investor dengan mata uang lain. Inflasi yang tinggi juga mendorong investor menjadikan emas sebagai opsi untuk menyimpan aset.

Selain itu, emas makin diminati ketika suku bunga turun dan membuat investor tidak merasa rugi menyimpan emas, meskipun emas tidak memberikan bunga.

Optimisme Gundlach turut dipengaruhi pandangannya soal inflasi yang akan tetap sulit ditekan akibat pengaruh tarif perdagangan.

"Prospek inflasi masih sangat tidak pasti. Powell benar saat menyatakan bahwa kita belum tahu pasti kapan efek tarif akan muncul dan bagaimana dampaknya,” kata Gundlach.

Harga emas batangan sempat mencetak rekor tertinggi harian sebesar USD 3.744 setelah The Federal Reserve memangkas suku bunga untuk pertama kalinya tahun ini. The Fed juga memberi sinyal bahwa penurunan suku bunga akan berlanjut sepanjang 2025. Hingga kini, emas tercatat menguat lebih dari 40% dan menjadi salah satu aset terbaik tahun ini.

Gundlach menilai kenaikan harga emas juga mendorong saham-saham tambang emas ikut menguat. Menurutnya, hal ini menandakan investor kecil mulai ikut masuk memanfaatkan tren kenaikan di pasar emas.

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas melonjak ke rekor tertinggi pada perdagangan Rabu, 17 September 2025. Lonjakan harga emas setelah the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga 25 basis poin dan mengisyaratkan pelonggaran kebijakan yang stabil hingga akhir 2025.

Mengutip laman CNBC, Kamis (18/9/2025), harga emas di pasar spot turun 0,2% menjadi USD 3.681,39 per ounce setelah mencapai rekor tertinggi di USD 3.707,40 pada awal sesi perdagangan. Harga emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Desember ditutup 0,2% lebih rendah di posisi USD 3.717,8.

Sementara itu, dolar AS kembali melemah, membuat emas yang dihargakan dalam dolar Amerika Serikat lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

"Pencapaian emas ke level tertinggi sepanjang masa menjadi hasil dari ekspektasi akan kondisi suku bunga yang lebih rendah pada masa mendatang, dan itu dimulai dengan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hari ini,” ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger.

 

 

 

Kekhawatiran The Fed

Ini menandai pemangkasan suku bunga the Fed tahun ini, menyusul jeda perubahan kebijakan sejak Desember setelah menurunkan suku bunga tiga kali pada 2024.

Pemotongan suku bunga ini, bersama dengan proyeksi yang menunjukkan dua pemangkasan 25 basis poin lagi pada pertemuan kebijakan yang tersisa tahun ini.

Hal ini menunjukkan para pejabat The Fed telah mulai meremehkan risiko kebijakan perdagangan pemerintahan Trump akan memicu inflasi yang berkelanjutan, dan kini lebih mengkhawatirkan pelemahan pertumbuhan dan kemungkinan meningkatnya pengangguran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6