Rupiah Ditutup Menguat Kamis Ini, Dolar Tertekan Sentimen The Fed

Pada Kamis (7/8/2025), rupiah ditutup pada perdagangan hari Kamis di Jakarta menguat sebesar 75 poin atau 0,46 persen menjadi Rp 16.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.362 per dolar AS.

Diterbitkan 07 Agustus 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis ini. Penguatan rupiah lebih disebabkan faktor eksternal terutama dari AS. 

Pada Kamis (7/8/2025), rupiah ditutup pada perdagangan hari Kamis di Jakarta menguat sebesar 75 poin atau 0,46 persen menjadi Rp 16.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.362 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga menguat ke level Rp 16.312 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp 16.379 per dolar AS.

Analis pasar uang Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan nilai tukar rupiah dipengaruhi optimisme pelaku pasar atas penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp 16.330-Rp 16.380 dipengaruhi oleh faktor global penurunan index dollar yang dipicu oleh naiknya optimisme pelaku pasar pada penurunan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan September nanti," katanya dikutip dari Antara. 

Pemangkasan suku bunga Fed diperkirakan sebanyak dua kali pada tahun ini sebesar 100 persen dengan total 50 basis points (bps).

Ekspektasi tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps juga meningkat dari 46,4 persen menjadi 48,1 persen. Potensi pemotongan tersebut diprediksi terjadi pada September, Oktober dan Desember.

"Besarnya optimisme pelaku pasar atas penurunan suku bunga The Fed pada pertemuan September nanti dapat dilihat pada Fed Watch yang menunjukkan angka 90 persen yang disebabkan pelemahan pasar tenaga kerja AS," ungkap Rully.

Adapun sentimen positif dari domestik berasal dari peningkatan minat pelaku pasar asing terhadap pasar obligasi negara.

"Minat pelaku pasar asing terhadap obligasi negara masih sangat tinggi dengan membukukan net buy 3,5 miliar dolar AS dan yield yang turun pada awal pekan kemarin 10 bps," ujar dia.

 

Rupiah Menguat terhadap Dolar AS Hari Ini 7 Agustus 2025

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi (7/8/2025).

Rupiah naik 44 poin atau 0,27% menjadi 16.318 per dolar AS dari semula 16.362 per dolar AS. Demikian mengutip dari Antara.

Ekonom BCA David Sumual menuturkan, hampir semua mata uang negara berkembang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 7 Agustus 2025). Penguatan rupiah itu di tengah harapan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) naik.

“Pasar bergerak risk-on ekspektasi suku bunga the Fed meningkat pasca komentar dovish tiga gubernur Fed,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

David menyebutkan, Dewan Gubernur The Fed Lisa Cook menyebut laporan pekerjaan Juli “mengkhawatirkan,” dengan hanya 73.000 lapangan kerja tercipta dan revisi penurunan hampir 260.000 dari dua bulan sebelumnya.

Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Revisi penurunan pada Juli merupakan "titik balik" dari arah kebijakan moneter Fed. Pejabat The Fed seperti Neel Kashkari mengisyaratkan potensi pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, dengan dua penurunan diprediksi hingga akhir 2025.

Cadangan Devisa

Penguatan rupiah terjadi di tengah rilis Bank Indonesia (BI) soal cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2025. BI melaporkan cadangan devisa Indonesia terjaga tetap tinggi sebesar USD 152 miliar. Namun, posisi itu sedikit turun dari posisi akhir Juni 2025 sebesar USD 152,6 miliar.

“Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso dalam laman BI.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2025 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6