Pengusaha Mal: Fenomena Rojali Mulai Naik sejak Ramadan 2024

Fenomena rojali alias rombongan jarang beli ternyata sudah terjadi sejak tahun lalu di Indonesia. Pengusaha mengungkapkan penyebab fenomena rojali ini muncul. Simak ulasannya dalam tulisan berikut ini.

Diterbitkan 25 Juli 2025, 09:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), mencatat fenomena "Rojali" alias rombongan jarang beli meningkat signifikan sejak Ramadan 2024. Fenomena ini menggambarkan banyak warga yang jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan mal tetapi mereka tidak membeli. 

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, saat itu daya beli masyarakat mulai mengalami tekanan sehingga berdampak langsung pada performa ritel selama Ramadan dan Idul Fitri.

"Sebetulnya sejak Ramadan (kenaikan rojali) ini sudah mulai. Ramadan yang lalu ya sebetulnya sudah terjadi, karena daya beli itu mulai bermasalah di 2024," kata Alphonzus saat ditemui di Jakarta Timur, Jumat (25/7/2025).

Padahal, Idul Fitri selama ini dikenal sebagai musim puncak belanja ritel. Namun di tahun ini, performanya tak maksimal karena daya beli lemah serta adanya pengetatan anggaran, termasuk dari pemerintah.

Setelah Idul Fitri, sektor ritel masuk ke masa low season yang biasanya berlangsung singkat. Namun pada tahun ini, kondisi tersebut berlangsung lebih lama dari biasanya, diperparah oleh pergeseran waktu Ramadan yang datang lebih awal.

"Makanya kenapa ramadhan dan Idul Fitri Ini kinerjanya tidak maksimal lebih terasa lagi setelah Idul Fitri, kenapa? Karena Idul Fitri itu kan puncak penjualan ritel di Indonesia Peak season-nya. Nah, peak season-nya itu kemarin tidak tercapai," jelasnya.

Kondisi ini menyebabkan intensitas Rojali makin tinggi, karena masyarakat datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk rekreasi atau sekadar mencari suasana, bukan berbelanja.

 

Penyebab Munculnya Rojali

Lebih lanjut, Alphonzus mengatakan, untuk kelas menengah bawah, fenomena rojali ini lebih disebabkan oleh melemahnya daya beli.

Pendapatan mereka tidak meningkat, bahkan cenderung turun, sementara kebutuhan tetap harus dipenuhi. Akibatnya, meski kunjungan ke mal masih tinggi, transaksi pembelian tidak ikut naik.

"Nah kemudian sekarang memang terjadi Ini lebih karena faktor Daya beli, khususnya yang di kelas menengah bawah. Kan daya belinya Berkurang Uang yang dipegang semakin sedikit Tapi mereka tetap datang Ke pusat perbelanjaan," pungkas Alphonzus.

 

Respon Mendag soal Fenomena "Rojali" di mall

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso merespons fenomena "Rojali" alias rombongan jarang beli. Menurutnya, tidak ada aturan yang melarang masyarakat untuk sekadar melihat-lihat barang di pusat perbelanjaan tanpa membeli.

"Kan kita bebas Kan saya bilang kan kemarin Kita tuh bebas Mau beli di online Mau beli di offline kan bebas," kata Mendag saat ditemui di Jakarta Timur, Kamis (24/7/2025).

Ia menegaskan bahwa perilaku konsumen yang hanya melihat-lihat bukanlah hal baru. Bagi Mendag, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari proses belanja yang wajar, di mana pembeli biasanya ingin memastikan kualitas dan harga barang sebelum memutuskan membeli.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6