Hidup 5 Kali Lebih Murah di Thailand, Begini Cara Pria Ini Bangkit Usai Dipecat Google

Dipecat dari pekerjaan impian di Google, Shao Chun Chen justru menemukan hidup barunya di Chiang Mai, Thailand. Kini ia menikmati hidup yang lebih tenang, mewah, dan bebas finansial—dengan biaya hidup lima kali lebih murah dari Singapura.

Diterbitkan 17 Juli 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Shao Chun Chen, awal 2024 menjadi titik balik yang tak terduga. Di usia 39 tahun, pria asal Singapura itu harus menerima kenyataan pahit: ia di-PHK dari Google, tempat yang selama ini ia anggap sebagai pekerjaan impiannya.

Awalnya, Chen merasa terpuruk dan kehilangan arah. Namun dari situ, ia justru menemukan kesempatan untuk mengubah hidup sepenuhnya.

"Saat PHK itu terjadi, saya sedang merenung, merasa kasihan pada diri sendiri. Lalu saya bertanya pada diri sendiri: 'Hei, mari kita balikkan situasinya. Bagaimana caranya agar ini menjadi hal yang positif?'" kata Chen dikutip dari CNBC Make It, dikutip pada Kamis (16/7/2025).

Tanpa lagi terikat pada pekerjaan maupun kewajiban untuk tinggal di Singapura, Chen memutuskan mengambil langkah berani: pindah ke Thailand, negara yang selama ini ia kagumi.

“Saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda, dan saya memang selalu menyukai Thailand,” ujarnya.

Hidup Mewah dengan Harga Terjangkau

Sejak November 2024, Chen dan istrinya menetap di sebuah kondominium mewah di Chiang Mai. Lingkungannya tropis dan tenang, dikelilingi pepohonan palem, taman hias, dan kolam renang luas. Interior apartemennya pun tak kalah istimewa—gaya modern minimalis, lantai parket coklat muda, open space untuk dapur dan ruang tamu, serta kamar tidur seluas 56 meter persegi.

Semua itu ia dapatkan hanya dengan biaya sewa R p7,5 juta per bulan, ditambah biaya utilitas sekitar Rp 326.000 dan Wi-Fi Rp 244.500. Bandingkan dengan apartemen lamanya di Singapura, yang sewanya mencapai Rp 40 juta per bulan—lima kali lebih mahal.

Fasilitas yang tersedia juga lengkap: gym berdesain futuristik, studio pilates modern dengan perlengkapan kelas atas, co-working space, dan bahkan seluncuran air. Semua mendukung gaya hidup sehat dan produktif, tanpa tekanan biaya tinggi.

Dari Google ke Dunia Konten dan Coaching

Setelah hijrah ke Chiang Mai, Chen membangun karier barunya sebagai kreator konten edukasi di YouTube dan pelatih pribadi. Lewat layanan coaching-nya, ia bisa mengenakan tarif hingga US$500 atau sekitar Rp8 juta per jam, tergantung kebutuhan klien.

Ia juga sempat menjadi dosen paruh waktu di National University of Singapore, meski akhirnya memutuskan untuk mengambil jeda demi fokus pada kehidupan barunya di Thailand.

Yang membuatnya semakin tenang adalah fakta bahwa Chen telah membangun portofolio keuangan bernilai jutaan dolar selama lebih dari satu dekade. Aset itulah yang kini memberinya kebebasan finansial—kemampuan untuk memilih gaya hidup sesuai keinginan, bukan keterpaksaan.

“Saya dibebaskan dari zona nyaman. Ini kesempatan untuk membangun ulang hidup saya,” ujar Chen.

Menemukan Makna Baru dalam Hidup

Kini, Chen mengaku hidup jauh lebih santai dan minim tekanan dibandingkan saat tinggal di Singapura.

“Waktu masih tinggal di Singapura, pekerjaan saya memang bergaji tinggi, tapi gaya hidupnya sangat melelahkan. Saya bisa bekerja 12 hingga 14 jam sehari,” ujarnya.

Dulu, tekanan tinggi membuatnya kerap menghabiskan uang untuk spa, terapi, dan hiburan sebagai pelarian stres. Tapi menariknya, kini tinggal di Thailand, di mana layanan seperti spa dan pijat jauh lebih murah, ia merasa tak lagi membutuhkan itu semua.

“Kepala saya sudah beda sekarang. Saya lebih tenang,” katanya.

Sesekali, ia tetap memanjakan diri dengan pijat seharga sekitar Rp244.000 per jam, dan tetap rutin berolahraga di gym tempat tinggalnya.

“Saya justru merasa bisa lebih hemat, walaupun jam kerja saya jauh berkurang,” tuturnya.

Meski masih membuka kemungkinan kembali ke Singapura jika ada peluang yang tepat, untuk saat ini, Chen memilih menikmati hari-harinya di Thailand dengan lebih sadar dan tenang.

“Dulu, saya menilai segala sesuatu berdasarkan efisiensi dan return on investment. Tapi di sini, orang-orang tidak berpikir seperti itu. Meskipun mereka mungkin tak punya banyak jaminan hidup, mereka tampaknya benar-benar menikmati hari-harinya. Mereka punya waktu untuk duduk santai, menikmati kopi, dan membaca buku,” ucapnya.

Chen kini percaya bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari produktivitas tinggi atau gaji besar. Justru, menurutnya, kebahagiaan bisa hadir dari hal-hal kecil dan sederhana yang dijalani dengan sepenuh hati.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6