Hashim Djojohadikusumo Target Indonesia Produksi Biochar Rp 146 Triliun per Tahun

Hanya beberapa negara tropis yang punya potensi besar biomassa sebagai bahan dasar Biochar. Selain Indonesia, negara lainnya seperti Republik Demokratik Kongo, Brasil, Venezuela, dan Peru.

Diterbitkan 08 Juli 2025, 08:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII), Hashim Djojohadikusumo, buka-bukaan soal potensi Indonesia dalam memproduksi biochar. Sebuah produk ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tanah yang berasal dari limbah pertanian (biomassa).

Hashim mengatakan, Indonesia punya potensi menghasilkan sekitar 100 juta ton biomassa yang berasal dari limbah pertanian berubah gabah padi, tebu, hingga sawit. Itu kemudian dikonversi menjadi biochar yang punya potensi ekspor besar.

"Potensi kita untuk biochar kurang lebih 1/3 dari itu (100 juta ton biomassa). Berarti 30 juta ton biochar. 1 ton biochar kurang lebih USD 300, harga internasional. Berarti kita bisa dapat devisa luar biasa, dan juga bisa selamatkan bumi kita," jelasnya di Jakarta, Senin (7/7/2025).

Bila dikalkulasi, Indonesia berpotensi mendapat pemasukan hingga USD 9 miliar per tahun dari produksi biochar, atau setara Rp 147,07 triliun (kurs Rp 16.230 per dolar AS).

Adik daripada Presiden Prabowo Subianto tersebut mengutarakan, hanya beberapa negara tropis yang punya potensi besar terhadap biomassa. Selain Indonesia, negara lainnya seperti Republik Demokratik Kongo, Brasil, Venezuela, dan Peru.

Menurut dia, Indonesia bisa mendapatkan bahan baku biochar tersebut tidak hanya dari limbah pertanian, tapi juga dari sektor kehutanan. Sehingga, Indonesia diklaim punya potensi penambahan devisa luar biasa dari produk ramah lingkungan tersebut.

"Saya yakin, kita semua yakin, Indonesia bisa jadi adidaya, kita bisa superpower dari biochar. Pada saat ini bumi memerlukan apa yang kita menghasilkan," seru Hashim.

 

Jalin Kontrak Ekspor ke Arab Saudi

Lebih lanjut, Hashim menyebut produk biochar Indonesia pun sudah mendapat ketertarikan dari negara luar. Seperti biochar produksi Sawa Eco dari Majalengka, yang telah menjalin kontrak ekspor ke Arab Saudi.

"Banyak negara di luar negeri yang membutuhkan. Misalnya Arah Saudi, untuk program penanaman pohon, penghijauan, mereka perlu," ungkap dia.

Kendati begitu, Hashim tak ingin Indonesia asal memproduksi biochar berkualitas rendah. Oleh karenanya, ia bakal menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk biochar.

 

Standar Nasional Indonesia

Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) disebutnya tengah menyusun standar khusus untuk produk biochar, guna menjaga mutu dan kualitas daripadanya.

"That's the main job, the main purpose of the association, untuk menetapkan standar-standar," tegas Hashim.

"Jangan nanti biochar dari Indonesia itu nanti lebih banyak dikenal sebagai yang mutu rendah, kita harus berusaha. Kita harus berupaya untuk mendapat dan nanti menghasilkan produk yang berstandar tinggi," tuturnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6