Brigade Pangan, Jurus Kementan Tarik Minat Generasi Muda Jadi Petani

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menuturkan, Brigade Pangan akan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern.

Diterbitkan 07 Mei 2025, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) meramu strategi dalam meningkatkan minat generasi muda menjadi petani. Brigade Pangan menjadi salah satu program yang dilakukan, termasuk dalam mendorong peningkatan produksi pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meluncurkan, program Brigade Pangan pada 20 November 2024. Tak lama sejak pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto resmi berjalan.

"Brigade Pangan akan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern, profesional dan terampil dengan menjalankan usaha yang berorientasi bisnis dan menghasilkan pendapatan dan keuntungan,” ungkap Amran dalam pembukaan pelatihan bagi Brigade Pangan di Jakarta, dikutip Liputan6.com, Rabu (7/5/2025).

Mengacu data Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan per April 2025, telah ada 1.900 Brigade Pangan yang terbentuk di 16 provinsi. Adapun, dalam satu brigade terdiri dari 15 orang petani, sehingga totalnya mencapai 28.500 orang.

Dia menjelaskan, setiap Brigade Pangan bisa mengelola 200 hektare lahan pertanian. Termasjk juga pengelolaan lahan rawa yang optimal dan pencetakan sawah rakyat, serta mengintegrasikan pendekatan berbasis komunitas dengan teknologi canggih.

Kementan juga memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian, pelatihan, serta akses ke benih unggul, pupuk, dan pestisida.

"Program ini tidak hanya meningkatkan produksi pangan nasional tetapi juga menciptakan ekosistem agribisnis modern yang memberdayakan generasi muda,” katanya.

Peluang Pekerjaan

Dia menuturkan, salah satu kunci sukses peningkatan produksi pangan menurut Amran adalah pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan). Dengan pemanfaatan alsintan, dapat membantu mempercepat proses pengolahan tanah, penanaman, hingga panen.

"Dalam situasi di mana tenaga kerja pertanian semakin berkurang, alsintan menjadi solusi untuk memastikan proses pertanian tetap berjalan lancar. Dengan penggunaan alsintan pengelolaan lahan lebih terstruktur, termasuk optimalisasi lahan rawa dan pencetakan sawah rakyat,” tutur Menteri Amran.

Peningkatan Produksi

Mentan Amran melihat peluang peningkatan produksi dari masifnya Brigade Pangan. Hal ini sejalan dengan target swasembada pangan yang dikebut pemerintah.

"Dengan bantuan alsintan, Brigade Pangan dapat mencapai target swasembada pangan melalui percepatan olah tanah, tanam, dan panen secara serempak,” papar Amran.

Kementan telah menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian sebanyak 2.347 unit berupa Traktor Roda 4 sebanyak 647 unit, TR2 sebanyak 1.391 unit, dan Crawler sebanyak 309 unit.

Anggota Brigade Pangan Bisa Dapat Rp 10 Juta

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Moch Arief Cahyono menjelaskan setiap anggota Brigade Pangan bisa meraup pendapatan sekitar Rp 10 juta per bulan. Jumlah pendapatan itu menghitung proyeksi produktivitas rata-rata lahan hang dikelola.

 Arief menjelaskan, dengan produktivitas rata-rata 5 ton per hektare, potensi produksi mencapai 1.000 ton gabah kering panen (GKP) dan asumsi harga gabah Rp6.000 per kilogram, maka total pendapatan kotor brigade dapat mencapai Rp6 miliar.

"Setelah dikurangi biaya operasional sebesar Rp19 juta per hektare atau total Rp 3,8 miliar untuk lahan 200 hektare, maka perkiraan pendapatan bersih dari budidaya padi ini adalah sebesar Rp 2,2 miliar dan nantinya dibagi antara brigade dan pemilik lahan,” jelas dia.

Skema Bagi Hasil

Arief mengatakan program Brigade Swasembada Pangan menggunakan skema bagi hasil 70:30, di mana 70 persen pendapatan diberikan kepada brigade, dan 30 persen untuk pemilik lahan.

Selain itu, sebagian dari pendapatan brigade juga disisihkan untuk modal tanam berikutnya agar kegiatan ini berkelanjutan.

"Potensi penghasilan Rp10 juta per bulan bahkan bisa lebih besar jika pengelolaan dilakukan secara lebih efisien dan produktif. Jika mampu tanam 2–3 kali dalam setahun, hasilnya tentu akan meningkat. Apalagi pemerintah telah menghibahkan alat dan mesin pertanian senilai Rp 3 miliar untuk dikelola brigade selama lima tahun,” jelas Arief.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6