Airlangga Pamer Kinerja Positif Ekonomi RI di Tengah Ketidakpastian Global

Kepada organisasi dagang Amerika Serikat, Menteri Koordinator Bidang Perekomonian Airlangga Hartarto kembali memuji kemajuan yang dibuat oleh ekonomi Indonesia

Diterbitkan 24 Oktober 2023, 12:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kepada organisasi dagang Amerika Serikat, Menteri Koordinator Bidang Perekomonian Airlangga Hartarto kembali memuji kemajuan yang dibuat oleh ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian global.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif juga mendukung penguatan kerja sama dan investasi Amerika Serikat di Indonesia.

“Di tengah tantangan global, perekonomian Indonesia masih memiliki prospek yang baik. IMF memproyeksikan pertumbuhan Indonesia pada tahun 2023 dan 2024 berkisar 5 persen,” papar Airlangga dalam kegiatan US-Indonesia Investment Summit di Mandarin Oriental, Jakarta pada Selasa (24/10/2023).

Seperti diketahui, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3 persen di 2023 menjadi 2,9 persen pada 2024 mendatang.

“Tantangan saat ini adalah bergantung pada suku bunga AS yang lebih kuat dan mata uang AS yang juga lebih kuat. Jadi itu yang harus kita mitigasi hari ini, yaitu mencegah capital outflow,” ungkap Menko Airlangga, saat berpidato di hadapan pejabat Kamar Dagang AS di Indonesia (AmCham).

Inflasi Terkendali

Airlangga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mampu mempertahankan angka di atas 5 persen selama 7 kuartal berturut-turut, dan laju pertumbuhan ini dibarengi dengan tingkat inflasi pada bulan September sebesar 2,28 persen.

“Di antara negara-negara lain, baik pertumbuhan ekonomi maupun inflasi Indonesia berada dalam kondisi yang lebih baik. PMI tetap ekspansif selama 25 bulan berturut-turut, dan lebih baik dibandingkan Tiongkok, AS, Jepang, dan Vietnam,” ucap Airlangga.

 

Neraca Perdagangan Surplus

Tak hanya itu, neraca perdagangan Indonesia juga mengalami surplus selama 41 bulan berturut-turut.

“Diproyeksikan bahwa keuntungan bisnis menjadi salah satu alasan mengapa berinvestasi di Indonesia menjanjikan dan memiliki potensi keuntungan dibandingkan dengan negara lain,” tutur Airlangga.

Sebagai informasi, US-Indonesia Investment Summit berada di bawah program Initiative Indonesia, sebuah upaya bersama antara Kamar Dagang Amerika di Indonesia dan Kamar Dagang AS.

Acara tahun ini dihadiri oleh Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Y. Kim, bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto; Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno; mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan pejabat senior serta pemimpin bisnis lainnya.

Jokowi: Dunia Makin Tak Jelas, Tantangan Semakin Banyak

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, dunia saat ini semakin tidak jelas, bahkan tantangan yang dihadapi bukannya berkurang malah semakin bertambah. Mulai dari ancaman perubahan iklim, pelemahan ekonomi global, hingga konflik Rusia-Ukraina dan konflik Israel dan Hamas.

Menurutnya, perubahan iklim yang dulunya di anggap sesuatu yang masih absurb tapi sekarang sudah nyata. Kekeringan super El Nino betul-betul dirasakan dan produksi beras turun hampir di semua negara.

"22 negara mengerem menstop tidak ekspor berasnya lagi, tidak pernah kita hitung tetapi muncul," kata Jokowi dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023, di Hutan Kota By Plataran, Jakarta, Selasa (24/10/2023).

Kemudian Jokowi menyoroti pelemahan ekonomi global. Dimana kebijakan kenaikan suku bunga yang tinggi dalam waktu yang lama yang dilakukan Amerika Serikat dinilai semakin merugikan, utamanya bagi negara-negara yang berkembang.

"Capital outflow semuanya lari balik ke Amerika, semakin juga merumitkan kita semuanya," ujarnya.

 

Perang Rusia Vs Ukraina

Di sisi lain, perang Rusia dan Ukraina juga belum jelas kapan berakhirnya. Selanjutnya, muncul lagi perang antara Hamas dan Israel yang dinilai semakin mengkhawatirkan semua negara. Jokowi pun khawatir perang Israel dan Hamas bisa melebar ke negara Timur Tengah lainnya, sehingga menyebabkan harga minyak melonjak.

"Karena larinya nanti bukan hanya perangnya di Israel dan di Palestina, tetapi kalau meluas melebar ke Lebanon melebar ke siria melebar dengan Iran, maka akan semakin merugikan masalah ekonomi semua negara karena harga minyak pasti akan naik," ujarnya.

Terkahir Jokowi mengecek harga minyak Brent masih dikisaran USD 89 Per barel. Namun, jika konflik antara Israel dan Hamas melebar maka kemungkinan harga minyak bisa menembus USD 150 per barel.

"Saya cek kemarin harga Brent masih USD 89 per barel kalau meluas seperti yang saya sampaikan kita nggak ngerti bisa mencapai USD 150 per barel. Inilah yang harus Kita waspadai hati-hati semuanya baik sisi moneter maupun sisi fiskal," ujar Jokowi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6