Sukses

Joe Biden Akui Butuh Waktu Redam Inflasi AS

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan bahwa akan dibutuhkan waktu untuk menyurutkan inflasi di AS, tetapi dia menawarkan jaminan baru bahwa undang-undang yang dia tandatangani awal tahun ini akan segera membantu membatasi biaya kesehatan dan energi.

Pernyataan itu disampaikan Biden saat bertemu dengan para pejabat bisnis dan buruh AS dalam acara publik pertamanya sejak kembali dari perjalanan ke Mesir, Kamboja dan Indonesia.

"Akan membutuhkan waktu untuk mengembalikan inflasi ke tingkat normal," ungkap Biden, dikutip dari Associated Press, Selasa (22/11/2022). 

Namun, "dalam enam minggu yang singkat, masyarakat Amerika akan mulai merasakan efek dari Undang-Undang Pengurangan Inflasi," bebernya, yang merupakan undang-undang besar yang Biden tandatangani pada Agustus 2022.

Dia mengatakan ketentuan undang-undang itu akan membatasi biaya insulin hingga USD 35 untuk masyarakat lanjut usia mulai 1 Januari 2023.

Selain itu, kredit pajak ribuan dolar juga akan tersedia untuk membantu rumah tangga lebih hemat energi dengan jendela baru, panel surya, atau pompa panas.

"Kita berbicara tentang uang sungguhan. . . dan itu baru akan keluar sekarang," jelas Biden.

Dalam kesempatan itu, Biden juga mengungkapkan bahwa perjalanannya ke luar negeri menunjukkan "Amerika Serikat diposisikan dengan baik atau lebih baik seperti negara mana pun di dunia untuk memimpin dunia dalam ekonomi di tahun-tahun mendatang".

Gedung Putih telah menekankan pasar pekerjaan yang kuat dalam upaya meredam kekhawatiran resesi. Di sisi lain, Federal Reserve terus memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan kenaikan suku bunga yang agresif untuk memerangi inflasi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Tak Setinggi Perkiraan, Inflasi AS 7,7 Persen di Oktober 2022

 Inflasi konsumen di Amerika Serikat mulai mereda pada Oktober 2022, meski masih berada di level yang cukup tinggi dan belum mencapai target Bank Setral AS atau The Federal Reserve. 

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (11/11/2022) Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa inflasi tahunan melambat menjadi 7,7 persen pada Oktober 2022, menandai kenaikan terendah sejak Januari 2022. 

Angka tersebut juga mendorong harapan di AS bahwa lonjakan biaya hidup akan mulai surut. Presiden Joe Biden pun menyambut penurunan inflasi ini. 

"(Angka ini) menunjukkan diperlukannya jeda lonjakan inflasi di toko kelontong kita menjelang musim libur," ujarnya. 

Namun, Biden juga memperingatkan bahwa masih dibutuhkan waktu untuk mengembalikan inflasi ke tingkat normal. Dia juga berjanji untuk terus membantu rumah tangga dengan mahalnya biaya hidup.

Dalam upaya meredam inflasi, The Fed telah menaikkan suku bunga pinjaman hingga enam kali tahun ini, termasuk empat kali kenaikan suku bunga raksasa berturut-turut, meskipun ada kekhawatiran langkah itu dapat memicu resesi.

Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan terlalu dini untuk mempertimbangkan menghentikan kenaikan suku bunga. Tetapi sejumlah pejabat The Fed dilaporkan telah menyuarakan langkah-langkah yang lebih kecil dalam beberapa bulan mendatang.

Ekonom dari High Frequency Economics, yakni Rubeela Farooqi melihat angka inflasi terbaru AS menandai berita baik bagi pembuat kebijakan The Fed, meskipun harga konsumen AS masih tinggi.

"Harga akhirnya menunjukkan beberapa respons terhadap kenaikan suku bunga yang curam, mendukung langkah penurunan dalam langkah ke depan," katanya dalam sebuah analisis.

Indeks Harga Konsumen bulanan AS naik 0,4 persen di Oktober 2022, sama seperti di bulan September, sementara tingkat inti melambat menjadi 0,3 persen, setengah dari kecepatan bulan sebelumnya.

Biaya perumahan berkontribusi lebih dari setengah dari keseluruhan kenaikan biaya bulan di AS pada Oktober 2022, sementara harga BBM juga melanjutkan kenaikannya, menurut Departemen Tenaga Kerja.

3 dari 3 halaman

Eks Menkeu AS : Suku Bunga The Fed Harus Naik Sampai 5 Persen Bila Mau Taklukkan Inflasi

Mantan Menteri Keuangan Amerika Serikat Larry Summers menyebutkan bahwa ada risiko yang jauh lebih besar terhadap ekonomi jika Federal Reserve tidak melakukan banyak upaya untuk menurunkan inflasi. 

"Bahkan jika ada penurunan ekonomi atau resesi, saya tidak berpikir ada alasan untuk berpikir bahwa The Fed memiliki prospek nyata untuk mendorong inflasi secara tahan lama di bawah (target inflasi mereka) 2 persen tanpa lebih banyak tindakan," kata Summers, dikutip dari CNN Business, Rabu (2/11/2022).

Kepada Wolf Blitzer dari CNN dalam segmen The Situation Room, Summers mengungkapkan bahwa prediksi terbaiknya adalah suku bunga mungkin harus naik menjadi 5,5 persen, jika Amerika mengharapkan prospek signifikan untuk memulihkan inflasi ke tingkat target yang ditetapkan The Fed. 

Seperti diketahui, suku bunga pinjaman acuan bank sentral AS saat ini berada di antara 3 persen dan 3,75 persen.

Pernyataan Summers tentunya bertolak belakang dengan serangkaian pendapat ekonom lainnya bahwa The Fed perlu menghentikan kenaikan suku bunga yang agresif untuk mencegah resesi.

Sejumlah tokoh ekonomi, termasuk CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon hingga pendiri Amazon Jeff Bezos, mengatakan mereka khawatir resesi akan segera terjadi.

Pasar, sementara itu, telah jatuh secara signifikan tahun ini. Summers setuju bahwa kemungkinan besar akan ada resesi tahun depan, dan mendorong masyarakat AS untuk menyadari datangnya masa-masa yang lebih sulit di masa mendatang.

Summers menyarankan, mereka yang khawatir pada resesi harus memastikan untuk mengatur kapasitas pinjaman dan menghindari pengambilan risiko keuangan.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS