Sukses

Sri Mulyani: Harga BBM Naik, tapi Masih Macet di Mana-mana

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi sebesar 30 persen beberapa waktu lalu berdampak kecil terhadap daya beli masyarakat. Hal ini tercermin dari fenomena kemacetan yang masih terjadi di jalanan ibu kota Jakarta meski BBM mahal.

Selain itu, petumbuhan ekonomi Indonesia juga masih bertahan di atas 5 persen hingga memasuki kuartal III-2022. Meskipun, harga BBM subsidi mengalami kenaikan imbas lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina. 

Diketahui, Pemerintah menaikkan harga Pertalite dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter. Kemudian, Solar subsidi dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter.

"Tiga kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi di atas 5, meskipun (harga) naik BBM 30 persen. Dimana-mana  masih macet," kata Sri Mulyani dalam Bincang APBN 2023 di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (28/10).

Bendahara Negara ini menyampaikan, tetap terjaganya tren pemulihan ekonomi nasional meski harga BBM naik tak lepas dari berfungsi baiknya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2022.

Ini karena APBN telah di desain sedemikian rupa untuk lebih fleksibel guna meredam guncangan yang berpotensi menghambat pemulihan ekonomi nasional.

"Ini menggambarkan ekonomi kita masih (kuat). Karena shock yang besar tadi di absorber oleh APBN yang besar," pungkasnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Jokowi soal Kenaikan Harga BBM: Keputusan yang Sulit

Sebelumnya, Pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi akhirnya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Harga BBM jenis Pertalite naik menjadi Rp10.000 per liter dari sebelumnya Rp7.650 per liter. Harga solar naik dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter. Kemudian harga Pertamax naik dari Rp12.500 menjadi Rp14.500 per liter.

Presiden Jokowi mengaku, keputusan penyesuaian harga BBM bersubsidi adalah hal yang berat. Namun menurut dia apa daya, saat ini kondisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dirasa sudah tidak lagi mampu menanggung hal tersebut.

"Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk melindungi rakyat dari gejolak harga minyak dunia. Saya sebetulnya ingin harga BBM di dalam negeri tetap terjangkau dari subsidi APBN," sesal Jokowi.

"Ini adalah pilihan terakhir pemerintah, yaitu mengalihkan subsidi BBM sehingga harga beberapa jenis BBM yang selama ini mendapat subsidi akan mengalami penyesuaian, dan sebagian subsidi BBM akan dialihkan untuk bantuan yang lebih tepat sasaran," kata Presiden Jokowi.

3 dari 4 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Ciamik, Indonesia Aman dari Pasien IMF

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendapat kabar dari Amerika Serikat (AS), dimana sebanyak 28 negara meminta pertolongan kepada Dana Moneter Internasional (IMF) untuk dibantu perekonomiannya.

Menanggapi hal itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, menegaskan kondisi Indonesia sejauh ini masih dalam posisi yang cukup baik perekonomiannya. Artinya, Indonesia tidak termasuk dalam 28 negara yang minta bantuan dana ke IMF.

Hal itu disampaikan Destry dalam peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No.39 bertajuk “Sinergi dan Inovasi Kebijakan untuk Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan dan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, Jumat (21/10/2022).

“Pertemuan IMF World Bank Annual Meeting yang baru saja selesai di Washington DC dan terinfo bahwa pada saat ini sudah ada 28 negara yang telah mengajukan permintaan bantuan keuangan dari IMF. Nah, bagaimana dengan Indonesia Alhamdulillah sejauh ini kita masih dalam posisi yang cukup baikn, dimana perekonomian kita di kuartal 2 kemarin masih bisa tumbuh di atas 5 persen,” kata Destry.

Bahkan, Bank Indonesia optimis memperkirakan sepanjang Tahun 2022 ini perekonomian Indonesia bisa tumbuh di kisaran 4,5 – 5,3 persen.

Lanjutnya, kondisi perekonomian global saat ini menghadapi suatu ketidakpastian yang sangat tinggi. Bank Indonesia menyebut kondisi itu VUCA, yakni Volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity.

“Nah ini, tentunya akan menyebabkan tekanan tidak hanya pada negara maju tetapi juga pada negara berkembang. Bahkan kalau kita lihat episentrum dari terjadinya Gejolak VUCA saat ini adalah kita lihat di negara maju,” ujarnya.

4 dari 4 halaman

Masalah AS

Dia mencontohkan, negara yang mengalami VUCA adalah Amerika Serikat (AS). Negara yang dijuluki Paman Sam ini menghadapi tekanan inflasi yang sangat tinggi, dan kemudian direspon dengan kebijakan moneter suku bunga yang sangat agresif.

“Sehingga Ini akhirnya memberikan tekanan, bukan hanya untuk negaranya  sendiri tapi juga untuk negara maju sekitarnya dan juga untuk negara-negara emerging seperti Indonesia,” ujarnya.

Disamping itu, kondisi ketidakpastian ini kemudian juga makin diperparah dengan terjadilah perang antara Rusia dengan Ukraina. Kemudian juga ada kebijakan proteksionisme masing-masing negara dan juga tambahan lagi dengan adanya zero covid policy di China, yang akhirnya membuat ekonomi China juga tertahan pertumbuhannya.

“Kita melihat fenomena terjadinya perlambatan ekonomi secara global dan bahkan diperkirakan akan terjadi resesi di tahun 2023,” ujarnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS