Bahlil Sebut Indonesia Bisa Hasilkan Energi 'Bersih Kuadrat', Apa Artinya?

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menuturkan, sesuai arahan Presiden Prabowo, Indonesia harus mampu transisi energi ke energi terbarukan.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, Indonesia bisa memproduksi energi bersih lebjh kuat. Dia menyebut istilah baru, yakni bersih kuadrat.

Dia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan transisi energi dari BBM fosil ke energi baru terbarukan. Berbagai cara bisa dilakukan dalam mengejar target nol emisi karbon pada 2060.

"Bangsa kita, negara kita atas arahan Bapak Presiden, kita harus mampu melakukan konversi daripada BBM fosil kepada energi baru terbarukan, kita harus konversi," tegas Bahlil dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, di JICC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Salah satunya, kata dia, Indonesia tengah mengembangkan pembangunan pembangkit listrik (PLTS) 100 gigawatt (GW) bersama PT PLN (Persero). Hal ini bisa menghasilkan hidrogen yang juga merupakan energi bersih dengan proses yang dijalankan juga bersih.

"Hari ini kita lagi mendorong Untuk pembangunan PLTS 100 gigawatt dengan PLN, ini juga bisa dijadikan sebagai Instrumen untuk melahirkan hidrogen. Jadi produknya adalah produk bersih, proses instrumennya juga listriknya juga bersih. Jadi bersih Plus bersih hasilnya bersih kuadrat," tuturnya.

Dia menjelaskan, dengan demikian, cara-cara tersebut bisa mempercepat upaya pemerintah untuk menuju nol emisi karbon. "Nah atas dasar itu kalau ini mampu kita lakukan .aka bisa kita menurunkan CO2, maka target Indonesia untuk net zero emission di 2050-2060 itu bisa kita betul-betul lakukan," ujar dia.

 

Biaya Operasional Pakai Hidrogen Mahal

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan biaya penggunaan hidrogen dalam kendaraan besar masih lebih mahal ketimbanh solar non-subsidi. Namun, dia menaksir harganya bisa lebih bersaing dalam waktu dekat.

Bahlil mengatakan telah mendiskusikan hitungan penggunaan hidrogen dalam kendaraan besar. Ternyata, biaya operasionalnya masih lebih mahal dibanding B50 non subsidi.

"Berapa biaya selisih antara B50 non PSO, non-PSO itu artinya yang industri, itu kan kurang lebih sekitar Rp 18.600 (per liter), kalau pake bus yang besar, itu bisa mencapai 1 liter itu 3,5 sampai 4 kilo (kilometer). Kalau pakai hidrogen ini berapa? Ternyata masih di atas daripada garga B50, hidrogen masih agak lebih mahal," jelas Bahlil dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, di JICC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/1026).

Bisa Bersaing dengan BBM

Biaya operasional ini, kata dia, menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan pada konteks transisi energi. Dia menilai, harga akan lebih murah ketika ditemukan teknologi yang tepat.

"Keyakinan saya, dengan perang terus terjadi dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," jelas dia.

 

Menemukan Teknologi Lebih Efisien

Menurut dia upaya ini merupakan tonggak penting, meski diakuinya bukan sesuatu yang mudah. "Tapi kalau ini sudah mampu kita menemukan teknologi yang lebih efisien, saya yakin ini akan laku," ucapnya.

Mobil Hidrogen Bisa Saingi Listrik

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia meyakini kendaraan bertenaga hidrogen mampu bersaing dengan kendaraan listrik. Dia percaya hal tersebut bisa tercapai dalam waktu tidak lama lagi.

Bahlil mengatakan, hidrogen menjadi salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil kendaraan. Dia meyakini hidrogen bisa bersaing dengan tenaga listrik dalam 5-10 tahun mendatang.

"Keyakinan saya, paling lambat, paling lambat, keyakinan saya 5-10 tahun ke depan Hydrogen ini akan menyaingi kenderaan listrik yang berbasis baterai," kata Bahlil dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, JICC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6