Sukses

BERANI BERUBAH: Bisnis Topi Singal Pembuka Rezeki

Liputan6.com, Jakarta- Pandemi COVID-19 memang telah menumbangkan banyak bisnis, namun itu bukan berarti mereka yang terdampak hanya akan diam begitu saja. Chelsea dari Tarakan, Kalimantan Utara adalah salah satunya. 

Ketika bisnis kerajinan miliknya mengalami penurunan omzet, Chelsea langsung mencari produk menarik baru yang bisa dipasarkan. Tak lama, terbersit ide untuk membuat topi budaya singal, sebuah produk yang dinilainya juga bisa menjadi andalan Kaltara.

“Pertama di masa pandemi memang saya mencari ide. Produk apa sih yang akan saya naikan yang bisa menjadi andalannya Kaltara,” tutur Chelsea kepada Tim Berani Berubah.

“Jadi di saat itu memang nekat aja kita membuat souvenir yang memang sangat-sangat khas dan belum ada. Jadi saya terus membuat singal dan terus di-branding terus hingga saat ini,” lanjut dia. 

Singal buatannya dia kombinasikan dengan motif batik Kaltara dan kain polos. Selain itu, Chelsea juga berinovasi agar produknya ramah lingkungan, yakni dengan menggunakan kain ecoprint yang terbuat dari tanaman lokal.

“Memang harus produk yang berbeda dan harus mengangkat daerah,” ujar Chelsea.

Selain itu, sebelum pandemi, omset kerajinan Chelsea ada di angka Rp20 juta saja. Tapi berkat produk singal miliknya, kini omset diraih pun mampu menyentuh angka Rp89 juta.

“Dengan adanya singal ini melonjak sampai 300 persen di atas. Puncaknya itu di 80-an (juta), 89 (juta) tahun kemarin per bulan. Dan saat ini agak turun sedikit, sekitar 50 (juta),” ucap Chelsea.

“Pandemi tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap kreatif. Lewat pembuatan singal saya kembali bangkit. Kuncinya adalah keuletan, inovasi, dan Berani Berubah!” dia mengakhiri.

 

2 dari 2 halaman

Ciptakan Lapangan Pekerjaan Baru

Berkat produk yang dipilihnya, tak disangka Chelsea mampu mendorong tumbuhnya banyak pengrajin singal.

Dia pun turut mempekerjakan mereka yang kehilangan sumber penghasilan akibat pandemi. Salah satunya adalah Sima, yang dulunya sempat memiliki usaha ayam potong. 

“Sebelum bekerja di sini saya sempat usaha ayam potong. Ayam potong selama enam tahun, setelah pandemi ada pengaruh. Pengaruhnya sangat besar, akhirnya stop,” ungkap Sima.

“Penyesuaiannya tidak terlalu susah. Karena saya basic-nya memang sudah bisa menjahit,” sambungnya.

Pastinya cerita ini menjadi kisah inspiratif untuk pantang menyerah di saat kondisi terpuruk. Yuk, ikuti kisah ini maupun yang lainnya dalam Program Berani Berubah, hasil kolaborasi antara SCTVIndosiar bersama media digital Liputan6.com dan Merdeka.com.

Program ini tayang di Stasiun Televisi SCTV setiap Senin di Program Liputan6 Pagi pukul 04.30 WIB, dan akan tayang di Liputan6.com serta Merdeka.com pada pukul 06.00 WIB di hari yang sama.