Sukses

Kurs Dolar AS Tembus Level Tertinggi Dalam 2 Dekade, Rupiah Stagnan

Liputan6.com, Jakarta Mata uang rupiah sore ini ditutup stagnan di level 14.554. Padahal siang tadi sempat menguat 15 point dari penutupan sebelumnya di level 14.574.

Diperkirakan pada perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif. Namun ditutup melemah di rentang 14.540-14.580.

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menilai kondisi tersebut dipengaruhi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS)yang meningkat mendekati level tertinggi secara historis pada 2 dekade terakhir.

"Dolar melayang di dekat level tertinggi dua dekade terhadap mata uang utama pada hari Rabu. Menjelang pembacaan kunci pada inflasi yang seharusnya memberikan petunjuk tentang seberapa agresif Federal Reserve dalam pengetatan kebijakan moneter," kata Ibrahim di Jakarta, Rabu (11/5).

Dia mengatakan saat ini para investor akan mencermati pembacaan indeks harga konsumen AS bulan April. Sebab hasilnya bisa menjadi pertanda inflasi akan mulai mereda.

"Tanda-tanda inflasi mungkin mulai mereda, dengan ekspektasi menyerukan kenaikan tahunan 8,1 persen dibandingkan dengan kenaikan 8,5 persen yang tercatat di bulan Maret," kata dia

"Ini tenang sebelum data inflasi besok, jadi ini memungkinkan istirahat untuk aset berisiko," kata dia.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Inflasi

Analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, D.C mengatakan tidak ada yang meningkat secara material dalam hal pertumbuhan global dan kekhawatiran tentang China.

Sehingga pasar hanya melihat ada kesempatan sebelum data inflasi besok dan ada sedikit posisi yang terjadi dan itu menguntungkan aset berisiko.

Ibrahim mengatakan dalam kondisi ini investor telah condong ke safe haven di tengah kekhawatiran tentang kemampuan Fed untuk menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi. Ini sejalan dengan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan yang timbul dari perang di Ukraina dan meningkatnya kasus COVID-19 di China.

Setelah Fed menaikkan suku bunga acuan semalam sebesar 50 basis poin minggu lalu, investor telah mencoba untuk menilai seberapa agresif bank sentral akan. Ekspektasi sepenuhnya diperhitungkan untuk kenaikan lain setidaknya 50 basis poin pada pertemuan bank sentral bulan Juni.

 

3 dari 3 halaman

Kondisi Rupiah

Dari sisi internal kondisi rupiah sangat dipengaruhi realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama, yakni 5,01 persen (yoy).Tak hanya itu, inflasi bulan April juga melonjak hingga 0,94 persen (mtm) dan menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017.

"Inflasi tahunan tersebut semakin mendekati batas atas kisaran target BI yaitu 2-4 persen. Sedangkan inflasi inti pada April menembus 2,6 persen (yoy) yang merupakan rekor tertinggi sejak Mei 2020 atau dua tahun lalu di mana pada saat itu inflasi inti mencapai 2,65 persen," paparnya

Oleh karena itu, Ibrahim menilai Bank Indonesia (BI) harus segera menyesuaikan suku bunga acuan dengan cara menaikkan suku bunga dalam pertemuan bulan ini BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), jika inflasi tinggi terus terjadi. BI juga akan terus memonitor inflasi untuk memastikan bahwa BI akan memberikan respon kebijakan yang tepat.

Selain itu juga akan terus memperkuat Kerjasama dengan pemangku kepentingan termasuk pemerintah. Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo pada konferensi hasil RDG bulan April lalu juga mengatakan tidak menutup kemungkinan BI untuk menaikkan suku bunga.

Namun, kebijakan tersebut akan sangat tergantung pada bagaimana kebijakan pemerintah dalam merespon kenaikan kelompok pengeluaran administered price. BI juga akan mempertimbangkan pergerakan inflasi yang fundamental yang tercermin dalam inflasi inti.

Suku bunga hanya berdampak terhadap permintaan (inflasi inti) tetapi persoalan yang dihadapi sekarang yakni tekanan inflasi yang ditimbulkan oleh pasokan dan kenaikan harga BBM. Menurunkan inflasi dengan cara merusak permintaan sepertinya tidak akan menjadi pilihan kebijakan yang dipilih BI.