Sukses

Miliarder Afrika Selatan akan Bangun Pabrik Vaksin Lokal Pertama di Afrika

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder Amerika Serikat kelahiran Afrika Selatan, Patrick Soon-Shiong memberikan inspirasi dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Dia membangun fasilitas pabrik pembuatan vaksin di sebuah kawasan bisnis di Cape Town. Bahkan, peresmian pabrik yang dinamai NantSA pun dihadiri Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa.

Diharapkan fasilitas tersebut segera menghasilkan vaksin COVID-19 yang diproduksi secara lokal pertama di Afrika, serta vaksin kanker dan obat-obatan lainnya.

"Sangat penting bagi Anda untuk divaksinasi. Vaksin yang ada memainkan peran penting seperti yang akan saya katakan, bukan tindakan sementara karena ini adalah generasi pertama, tetapi itu benar-benar mengurangi kematian. Jadi, saya ingin memastikan bahwa masyarakat mengerti bahwa Anda perlu divaksinasi," kata Soon-Shiong, dikutip dari laman VOA, Kamis (20/1/2022).

Ia mengatakan vaksin COVID-19 yang dikembangkannya merupakan generasi kedua dan akan menghentikan penularan virus tersebut. Namun, dia menekankan vaksin yang tersedia saat ini masih efektif dan diperlukan.

"Sayangnya, dua hal terjadi: antibodi berkurang dan virus bermutasi dan membuat diri Anda menjadi berisiko, yang kemudian membuka peluang untuk vaksin generasi kedua. Jadi, vaksin generasi pertama sama sekali bukan buang-buang waktu. Saya percaya pada pembuatan vaksin generasi kedua pun nantinya bisa meredam penularan," ujarnya.

Soon-Shiong mengatakan akan menggelontarkan dana sekitar USD 196 juta untuk menyelesaikan pabrik tersebut.

Dia mengatakan setelah pabrik beroperasi penuh nantinya, perusahaannya berharap dapat memproduksi sekitar 1 miliar dosis vaksin COVID-19 pada tahun 2025 mendatang.

Soon-Shiong (69) meninggalkan Afrika Selatan setelah magang untuk menjadi dokter medis.

Saat ini, dia berada di nomor 89 dalam daftar Forbes 400 orang Amerika terkaya dengan perkiraan kekayaan bersih sebesar USD 7,5 miliar.

Sebagai ahli bedah transplantasi, ia dikenal karena menemukan obat pengobatan kanker Abraxane.

 

2 dari 2 halaman

Tuntutan Pemerintah

Presiden Ramaphosa, terus mengkampanyekan produsen vaksin untuk melepaskan hak paten mereka agar semua negara dapat memproduksi vaksin COVID-19, mengatakan diskusi dengan Organisasi Perdagangan Dunia tentang hal ini terus berlanjut.

"Tuntutan yang telah kami buat, diprakarsai oleh India dan Afrika Selatan adalah bahwa kami ingin dunia, atau mereka yang memiliki kapasitas untuk memproduksi bahan obat untuk mentransfer teknologi mereka sehingga kami dapat memproduksi sendiri bahan obat tersebut. Dan di sinilah tantangan sebenarnya. Kami ingin bermigrasi dari sekedar melakukan fill and finish dan mampu memproduksi sendiri bahan obat tersebut," katanya.

Selain pabrik vaksin,  Presiden dan Soon-Shiong juga meluncurkan sebuah koalisi yaitu Accelerate Africa’s Access to Advanced Healthcare, atau yang dikenal sebagai AAAH.

Koalisi ini bertujuan untuk mempercepat produksi obat-obatan dan vaksin dalam negeri yang akan menjangkau pasien di seluruh benua Afrika.

Direktur Regional Afrika untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Matshidiso Moeti, mengucapkan selamat kepada Ramaphosa dan Soon-Shiong atas peluncuran tersebut, dengan mengatakan bahwa itu adalah hari yang membanggakan bagi Afrika.

"Kampus manufaktur vaksin baru ini akan menjadi ruang penting yang berkontribusi pada sistem ramah lingkungan untuk kapasitas produksi. Ini akan memberikan kontribusi positif terhadap respons Afrika terhadap COVID-19, serta kanker, HIV, penyakit yang dapat dicegah pada masa kanak-kanak, penyakit tropis yang terabaikan, dan penyakit lainnya," tutur Moeti.