Sukses

Vaksin Booster Bakal Berbayar, Berapa Harganya?

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengintruksikan kepada para menteri agar vaksinasi booster atau vaksin dosis ketiga bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Adapun kebutuhan vaksin booster sendiri mencapai 97,1 juta dosis vaksin untuk 87,4 juta jiwa.

"Bapak presiden juga memberikan arahan terkait dengan vaksinasi booster yang diharapkan bisa diselesaikan dalam minggu depan," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangan pers, Senin (27/9).

Airlangga menjelaskan, keinginan presiden untuk mempercepat vaksin booster ditujukan dalam mempercepat sekaligus menahan apabila terjadi gelombang ketiga. Ini juga memperhitungkan sesuai dengan masyarakat yang divaksin apakah itu sudah 50 atau 60 persen.

"Itu akan didorong. Sedangkan sisanya nanti akan didorong melalui vaksin berbayar. Dari segi harga vaksin dan lain akan dimatangkan kembali dan ini diperkirakan untuk 93,7 juta jiwa," jelas dia.

Sebelumnya, Pemerintah terus mempercepat pemberian vaksin dosis ketiga atau booster bagi tenaga kesehatan (nakes). Pemerintah menegaskan vaksin booster hanya diberikan untuk nakes untuk melindungi mereka dalam menjalankan tugasnya di tengah pandemi COVID-19.

"Prioritas program vaksin booster saat ini adalah tenaga kesehatan sebagai populasi berisiko, sekaligus vital dalam mendukung layanan dalam kesehatan di masa pandemi," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, Sabtu (25/9/2021).

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Prioritas Vaksin Booster

Saat ini, pemerintah hanya memberikan vaksin booster untuk nakes. Pemerintah belum melakukan perubahan kebijakan terkait hal ini sehingga vaksin booster belum boleh diberikan untuk masyarakat umum.

"Saat ini vaksin booster memang baru diprioritaskan untuk tenaga kesehatan. Hal ini lantaran kelompok tersebut lebih berisiko terpapar COVID-19," ujarnya.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Infografis Kejahatan Vaksin Covid-19 Palsu di China