Sukses

Dalam 3 Bulan, Ekspor Langsung Produk Perikanan dari Manado ke Jepang Capai Rp 14 Miliar

Liputan6.com, Jakarta - Direct call atau ekspor langsung dari Manado ke Jepang menunjukkan tren positif tiga bulan sejak diluncurkan. Dalam kurun waktu 23 September - 23 Desember 2020, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) telah melakukan 14 kali direct call dengan total volume yang dilalulintaskan mencapai 97.070,87 kilogram.

Dari kegiatan itu, nilai ekspor produk perikanan yang dilalulintaskan melalui direct call tersebut mencapai USD 1.042.426,58 atau berkisar Rp 14, 7 miliar (kurs 14.131).

"Tentu ini menjadi kabar positif, sejak diluncurkan, kita telah melakukan 14 kali direct call Manado-Jepang," kata Kepala BKIPM, Rina, seperti dikutip dari keterangan resmi pada Kamis (28/1/2021).

Dari total 14 unit pengolah ikan (UPI) yang menjadi bagian dari direct call ini, lima di antaranya merupakan UPI yang baru melakukan ekspor. Komoditas top yang diekspor adalah yellowfin tuna whole, yellowfin tuna loin, frozen tilapia, lobster hidup, dan ornamental marine fish.

"Kita semakin bangga, karena ada 5 UPI baru yang bisa ikut ekspor juga selain 9 yang memang sudah sering ekspor," tutur Rina.

Rata-rata volume ekspor yang dilalulintaskan per direct call mencapai 6.998,56 kilogram. Kemudian rata-rata nilai per direct call sebesar USD 74.459,04.

Rina mengungkapkan, estimasi efisiensi biaya cargo dari adanya direct call Manado-Jepang ini sebesar Rp 218,7 juta. Ia berharap direct call juga bisa dilakukan di daerah-daerah lain, terutama sentra-sentra perikanan.

"Ini mencapai 56,81 persen dari biaya sebelum adanya direct call. Artinya ada efisiensi biaya cargo," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Nilai Ekspor Ikan Hias Bandung pada 2020 Tembus Rp 93,3 Miliar

Sebelumnya, pandemi Covid-19 tak memengaruhi bisnis ikan hias di Bandung, Jawa Barat. Tren perlintasan ekspor ikan hias mengalami peningkatan selama 2020 dengan nilai Rp 93,3 miliar.

Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Bandung, Dedi Arief, mengatakan komoditas ikan hias menunjukkan grafik yang menggembirakan dari tahun ke tahun.

"Pandemi malah naik 7,69 persen dari sisi volume yang kita ekspor," kata Dedi seperti dikutip dari keterangan tertulis pada Selasa (26/1/2021).

Sebagai gambaran, BKIPM Bandung pada 2018 mengekspor sebanyak 20.431.156 ekor ikan hias senilai Rp 73,3 miliar. Angka ini kemudian meningkat menjadi 21.672.096 ekor dengan nilai Rp 79,9 miliar pada 2019.

Kemudian pada 2020, angka lonjakan ekspor sebesar 23.317.318 ekor dengan nilai Rp 93,3 miliar. UPT BKIPM Bandung menduduki peringkat dua ekspor ikan hias nasional.

"Tentu ini menunjukkan permintaan semakin meningkat. Dari sisi nilai ekspor, lonjakannya sebesar 16,68 persen di tengah kondisi pandemi," tuturnya.

Komoditas ikan hias yang sangat diminati oleh pasar ekspor di antaranya Tetra, Rasbora dan Udang hias. Kolektor peminat ikan-ikan hias ini antara lain berasal dari 51 negara dengan paling banyak dari Jepang, Amerika Serikat dan Singapura.

Ia pun menjelaskan dampak makro hulu kegiatan ekspor ikan hias dari Bandung. Menurutnya, para eksportir ikan hias memiliki pegawai sekira 60 orang dengan rata-rata pendapatan perbulan sebesar Rp 4 juta per orang.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: