Sukses

Resmi Beroperasi Desember 2020, Patimban jadi Pelabuhan Tercanggih di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perhubungan beberkan kemajuan proyek Pelabuhan Patimban di Jawa Barat. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, calon pelabuhan terbesar di Indonesia ini akan soft launching pada Desember 2020.

Pelabuhan ini juga digadang-gadang sebagai pelabuhan tercanggih di Indonesia karena padat akan teknologi.

"Kita membangun Patimban, Insyaallah bulan Desember sudah soft launching. Satu pelabuhan yang mungkin akan sama besarnya dengan Tanjung Priok. Tetapi memang itu akan ada suatu pelabuhan yang padat teknologi," ungkap dia, Selasa (27/10/2020).

Menhub Budi menyebutkan Patimban nantinya akan saling terkait dengan kawasan-kawasan yang menjadi penopang roda perekonomian baru di Cirebon, Subang, dan Majalengka (Rebana).

“Patimban itu menjadi segitiga. Cirebon sebagai kota wisata, Kertajati sebagai bandara internasional atau bandara logistik dan Patimban ini menjadi satu, yang akan menjadi Rebana, segitiga," kata Menhub.

Sebagai perbandingan Budi Karya menyebutkan Patimban nantinya akan sama besar dengan sejumlah infrastruktur yang ada di Jakarta. Seperti Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno Hatta (Soetta).

"Jadi bayangkan disana Patimban akan sama besar dengan Priok. Kertajati sekarang panjang runway-nya 3.400 meter, lebih baik dari pada Soetta, dan juga kapasitasnya memungkinkan, dan Cirebon sudah jadi tujuan wisata,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Pelabuhan Patimban Siap Beroperasi Desember 2020

Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat mulai beroperasi pada Desember 2020 mendatang.

Plt Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur danTransportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Ayodhia GL. Kalake mengatakan pelabuhan ini akan menghubungkan Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes dan sekitarnya.

"Pelabuhan (Patimban) terbesar kedua setelah Pelabuhan Tanjung Priok ini siap menghubungkan berbagai wilayah produktif di Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan sekitarnya," kata Ayodhia dalamn siaran persnya, Jakarta, Senin (12/10/2020).

Pembangunan Pelabuhan Patimban merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Saat ini pemerintah pusat masih melakukan koordinasi dengan kementerian/lembaga untuk finalisasi pembangunannya. Diharapkan proyek ini bisa rampung dalam waktu 2 bulan.

Sementara itu, terkait pemberdayaan nelayan yang terdampak proyek ini akan diurus oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Perwakilan Ditjen Perikanan Tangkap KKP Gunaryo menjelaskan pihaknya telah berdiskusi dengan 100 nelayan terdampak.

Setidaknya ada 100 nelayan dari dua tempat pendaratan ikan yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Genteng dan Terungtum. KKP akan memberikan bantuan berupa pengadaan kapal, alat tangkap dan permodalan.

"Kami pun siap membantu nelayan, baik berupa pengadaan kapal dan alat tangkapnya maupun permodalannya. Para nelayan juga sangat tertarik dengan skema bantuan (permodalan) yang kami tawarkan ," kata dia.

Gunaryo menyebut sebelum ada pembangunan Pelabuhan, nelayan dengan kapal di bawah 2 GT bisa menangkap ikan di perairan sekitarnya. Para nelayan bisa membawa uang Rp 1,5 juta - Rp 2 juta tiap hari berlayar.

Namun sejak ada proyek pembangunan Pelabuhan Patimban, penghasilan nelayan menurun drastis. Dalam sehari penghasilan nelayan hanya sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500. Kini para nelayan harus berlayar lebih jauh lagi sehingga membutuhkan kapal yang lebih besar lagi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: