Sukses

Pembangunan Rendah Karbon Jadi Prioritas dalam RPJMN 2020-2024

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan perubahan iklim telah diarusutamakan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Yakni melalui strategi Pembangunan Rendah Karbon Indonesia (LCDI) yang lebih luas.

Sri Mulyani menjelaskan, upaya mendorong ekonomi hijau yang berkelanjutan menjadi penting saat ini. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di masa depan. Untuk itu, ia menghimbau para pembuat kebijakan untuk lebih melihat perspektif strategi jangka panjang yang bertujuan membangun ekonomi secara berkelanjutan.

“Saya percaya dengan mengimplementasikan green recovery akan menjadi pendorong transformasi ekonomi dunia. Indonesia akan terus melanjutkan komitmennya untuk mengurangi emisi karbon, untuk mencapai a climate resilient-nation. Untuk itu, para pembuat kebijakan harus melihat secara lebih dekat mengenai paket pemulihan dari perspektif strategi jangka panjang, untuk membangun ekonomi secara berkelanjutan,” kata Sri Mulyani dilansir dari laman instagram pribadinya, Jumat (16/10/2020).

Sebagai informasi, Sri Mulyani menyampaikan bahwa dalam menghadapi pandemi COVID-19, pemerintah Indonesia mengalokasikan dana stimulus fiskal untuk proyek hijau padat karya. Seperti proyek respirasi mangrove yang mencakup 50 ribu hektar dan mempekerjakan 25 ribu orang sekitar pesisir.

Selain itu, Indonesia juga mendorong sektor swasta untuk berpartisipasi dalam upaya implementasi ekonomi hijau. Diantaranya dengan memberikan dukungan kebijakan dan kerangka peraturan agar sektor swasta memiliki confidence dan merasa nyaman untuk berinvestasi dalam green projects.

“Ayo dukung pemulihan hijau yang inklusif yang akan membantu kita mengatasi tantangan ganda pandemi COVID-19 dan perubahan iklim, agar kita membangun kembali dengan lebih kuat dan berkesinambungan!” pungkas Sri Mulyani.

2 dari 3 halaman

Optimis Hadapi Perubahan Iklim, Kementan Edukasi Petani Pekebun Tentang Emisi Karbon

 Dalam rangka menjaga produksi pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) optimis bahwa para petani pekebun siap menghadapi perubahan iklim saat ini. Oleh karena itu, Kementan pun mulai mengantisipasi adanya risiko gagal panen.

Demikian dikatakan Direktur Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan, Ardi Praptono dalam kunjungan kerjanya di Lumajang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

"Kami memberikan apresiasi kepada kelompok tani yang telah melaksanakan kegiatan mitigasi dan adaptasi di bidang perkebunan dalam menghadapi perubahan iklim tersebut," ujarnya.

Menurut Ardi, kegiatan pelatihan mitigasi dan adaptasi menghadapi perubahan iklim petani sangat penting dalam upaya menjaga produksi. Dengan demikian petani tidak lagi khawatir produksi berkurang jika perubahan iklim benar-benar terjadi.

Kegiatan mitigasi pada subsektor perkebunan adalah upaya yang dilakukan oleh pelaku usaha perkebunan untuk mengurangi sumber emisi gas rumah kaca (GKR). Sementara untuk menghadapi perubahan iklim, diperlukan tindakan penyesuaian terhadap dampak negatif yang berupa proses adaptasi. 

Oleh karena itu, untuk mengurangi emisi karbon, ada beberapa hal yang dpat dilakukan oleh para petani pekebun. Mulai dari mengintegrasikan ternak (kebun-ternak), mengurangi atau menggantikan pemanfaatan pestisida dan pupuk kimia dengan organik, mengurangi penggunaan herbisida dan pemanfaatan pohon pelindung sebagai penyerap karbon. Semua itu dilakukan dalam rangka pemanfaatan limbah perkebunan. 

Berkaitan dengan upaya tersebut, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan pun memberikan bantuan kepada Kelompok Tani Langgeng Tani II, Desa Tamanayu, kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, antara lain Ternak 25 ekor, Kandang ternak, Rumah kompos, Embung, Peralatan pertanian kecil dan alat pengolah pupuk organic (APPO).

Kelompok Tani Langgeng Tani II, Desa Tamanayu, kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Mustofa berharap, dengan adanya bantuan sarana input produksi dan pembinaan teknis dari BBPPTP Surabaya, maka Kelompok tani dapat lebih giat lagi dalam mengelola kebun kopinya. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan pendapatan masyarakat atau petani.

"Ternak yang diberikan Ditjen Perkebunan akan kami kelola dengan baik sehingga dapat menambah kas kelompok tani, selain itu kotoran kambing akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan pupuk untuk tanam kopi," ujar Mustofa.

Selain itu juga, lanjut Mustofa, untuk memanfaatkan embung yang telah diberikan oleh Ditjen Perkebunan, maka akan dimanfaatkan untuk budidaya ikan sehingga nanti dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: