Sukses

Resesi Pernah Bikin Indonesia Jadi Negara Merdeka

Liputan6.com, Jakarta Ancaman resesi kini menghantui Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal II dan III tahun ini diprediksi terkontraksi, sehingga  negara hampir masuk jurang resesi.

Indonesia sebetulnya sudah pernah merasakan pengalaman tersebut beberapa kali. Bahkan ketika dahulu masih berada di bawah jajahan Belanda. Namun, peristiwa tersebut justru membawa sedikit dampak positif yang berujung pada kemerdekaan negara.

Ini diungkapkan Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Dia menceritakan, Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda sempat terkena jurang resesi pada 1930.

Saat itu, pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut. "Tahun 1930 situasinya harga komoditas utama ekspor seperti tebu anjlok, petani di bawah kuasa kolonial kelaparan, dan kerusuhan sosial terjadi di berbagai wilayah, termasuk pembakaran lahan-lahan tebu dan mogok pabrik," jelasnya kepada Liputan6.com, Selasa (14/7/2020).

Menurut Bhima, situasi pada tahun tersebut juga semakin diperburuk oleh beberapa indikator seperti wabah Flu Spanyol. Adapun pandemi tersebut telah membuat perekonomian global di era 1918 tersungkur dalam.

"Jadi ada pandemi, kemudian kejatuhan pasar saham di Amerika Serikat (AS) merembet ke Indonesia," sambung Bhima.

Imbasnya, perekonomian Hindia Belanda kesulitan untuk pulih di tahun-tahun setelahnya. Kondisi tersebut lantas menimbulkan keresahan yang berujung kerusuhan. Termasuk dorongan kuat warga lokal untuk meraih kemerdekaan.

"Untuk resesi tahun 1930 bahkan menimbulkan guncangan pada kas Kolonial Belanda setelahnya. Dan ini yang memicu pemberontakan di mana-mana, termasuk dukungan agar Indonesia merdeka karena penjajah kolonial dianggap gagal memperbaiki situasi ekonomi rakyat," tutur dia.

2 dari 3 halaman

Indonesia Tidak Menuju Titik Resesi, Ini Bukti Indikator yang Diungkap BI

Bank Indonesia (BI) meyakini jika perekonomian Indonesia pada tahun ini tidak mengalami resesi, imbas dari pandemi COVID-19. Sejumlah indikator perdagangan global termasuk ekspektasi masyarakat, mulai menunjukkan tanda perbaikan menjadi landasan keyakinan.

“Ini masih dini tapi menggambarkan kita tidak menuju suatu titik resesi sebagaimana dikhawatirkan banyak orang,” kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, seperti melansir Antara, seperti dikutip Kamis (9/7/2020).

Menurut dia, berdasarkan survei BI sebelumnya indikator ekspektasi masyarakat pada Mei 2020 berada pada titik yang landai, namun ada harapan penurunannya akan berhenti.

Artinya, ekspektasi positif dan optimisme mulai tumbuh terhadap perbaikan ekonomi. Indeks ekspektasi itu berada pada zona yang optimis dengan indeks 104,9, meski masih turun dibandingkan April 2020 mencapai 106,8.

Data sementara lainnya, lanjut dia, perdagangan dunia yang mulai dibuka salah satunya di China sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Dampaknya, lanjut dia, indeks manufaktur Indonesia atau Purchasing Managers Index (PMI) berdasarkan data HIS Markit pada Mei naik mencapai 28,6, membaik dibandingkan April 2020 mencapai 27,5.

Sedangkan memasuki normal baru pada Juni 2020 kinerja PMI kembali terangkat menjadi 39,1. “Risiko investasi relatif pada perlambatan tertahan yang menandakan ada beberapa kegiatan manufaktur sudah mulai bergerak karena link dengan dibukanya ekspor ke China,” ucapnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video di bawah ini: