Sukses

Berbagai Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ada yang Minus 0,69 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Disituasi pandemi dan ketidakpastian yang tinggi, mengharuskan Pemerintah untuk mempersiapkan beberapa skenario perkembangan ekonomi ke depan. Bahkan pertumbuhan ekonomi kuartal I hanya sebesar 2,97 persen menunjukkan telah terjadi koreksi yang cukup tajam.

Selain itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani sempat menyampaikan dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa (12/5/2020), menjelaskan bahwa hal tersebut mengindikasikan tekanan lebih berat akan dialami sepanjang tahun 2020.

"Artinya, pertumbuhan ekonomi terancam bergerak dari skenario berat sebesar 2,3 persen menuju skenario sangat berat yaitu kontraksi -0,4 persen," ujarnya.

Melihat hal tersebut, tentunya mengundang banyak prediksi atau ramalan, karena urusan meramal ekonomi bukan hal sulit ketika dunia didera krisis. Berikut  telah dirangkum dari berbagai sumber terkait prediksi tersebut oleh Liputan6.com, Rabu (3/6/2020).

1. Bank Dunia

Ekonom senior Bank Dunia Ralph van Doorn memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 ini akan menurun hingga 0 persen akibat dampak penyebaran Covid-19.

Perkiraan itu muncul dengan bersandar pada penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah selama dua bulan, terhitung sejak April dan Mei 2020.

"Pertumbuhannya diproyeksikan akan 0 persen di 2020 sebagai efek dari Covid-19, lantaran adanya pembatasan sosial berskala besar," kata Van Doorn dalam sesi teleconference, Selasa (2/6/2020).

Lanjut Van Doorn mengatakan, prediksi tersebut dibuat berdasarkan beberapa indikator. Seperti perlambatan di sektor konsumsi oleh pihak swasta akibat aksi Pemutusan Hubungan kerja (PHK) besar-besaran, serta turunnya aktivitas ekonomi dan kepercayaan konsumen.

Selain itu, investasi yang melambat juga disebutnya turun berpengaruh. Menurut dia, wabah pandemi telah menimbulkan ketidakpastian pada investor, harga komoditas menurun, hingga perlambatan ekonomi global.

2. International Monetary Fund (IMF)

Proyeksi sebelumnya yakni dari Dana Moneter Internasional atau Internasional Monetary Fund (IMF), yang merilis ekonomi global (World Economic Outlook) chapter 1 seri April 2020. IMF memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi dunia akan mengarah ke skenario terburuk dari yang diperkirakan, apabila  wabah covid-19 masih bertahan lama atau kembali berkembang dalam fase kedua.

IMF memperkirakan bahwa produk domestik bruto global akan menyusut 3 persen tahun 2020 ini. Prediksi itu tentunya berbanding terbalik dengan proyeksi ekspansi sebesar 3 persen yang disampaikan pada Januari 2020.

"Untuk pertama kalinya sejak The Great Depression baik negara maju dan negara berkembang berada dalam resesi," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath (14/4/2020).

Kendati begitu, IMF menyebutkan prediksi untuk Indonesia sendiri kemungkinan akan tumbuh 0,5 persen, dari sebelumnya 5,0 persen di 2019. Namun pertumbuhan diproyeksi bisa membaik di 2021, dengan perkiraan 8,2 persen. 

3. Asian Development Bank (ADB)

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2020 tumbuh 2,5 persen. Angka tersebut turun tajam jika dibanding dengan realisasi 2019 yang di angka 5 persen. Penyebab turunnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut karena dampak wabah virus covid-19.

ADB menilai, meski Indonesia memiliki landasan makroekonomi yang kuat, wabah Covid-19 mengubah arah perekonomian Indonesia. Ini akibat memburuknya kondisi lingkungan eksternal dan melemahnya permintaan dalam negeri.

Namun perekonomian Indonesia bakal kembali pulih di 2021 jika pemerintah melakukan tindakan tegas dan efektif untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi. Khususnya melindungi kelompok miskin dan rentan.

"Perekonomian Indonesia diperkirakan dapat kembali secara bertahap ke jalur pertumbuhannya tahun depan" kata Direktur ADB, Winfried Wicklein, dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat, (3/4/2020).

Lebih lanjut, Asian Development Outlook (ADO) 2020, pandemi Covid-19 bersamaan dengan penurunan harga komoditas dan gejolak pasar keuangan. Hal ini akan berimplikasi buruk bagi perekonomian dunia dan Indonesia tahun ini.

Terlebih dengan memburuknya perekonomian sejumlah mitra dagang utama Indonesia. Permintaan dalam negeri diperkirakan akan melemah seiring dengan menurunnya sentimen bisnis dan konsumen.

Namun, sejalan dengan pulihnya perekonomian dunia tahun depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan memperoleh momentum. Dibantu dengan reformasi di bidang investasi yang dikeluarkan baru-baru ini.

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

4. Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 berada di angka 2,3 persen.

"Sehingga secara keseluruhan semula prediksi kami 2,3 persen, tentu saja akan sedikit lebih rendah dari 2,3 persen dari realisasi di kuartal I yang ternyata lebih rendah," kata Perry di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2020).

Namun hal tersebut tidak akan berlanjut di tahun berikutnya. Pada 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik.

Kendati begitu Perry menjelaskan, Bank Indonesia memperkirakan puncak penyebaran virus Corona ada di bulan April, Mei dan pertengahan Juni. Maka kebijakan pemerintah seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanya berlaku di bulan tersebut. Penerapan PSBB ini juga akan berlangsung di 70 persen wilayah ekonomi Indonesia.

Namun Perry optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 sebesar 6,6 persen, maka dalam dua tahun pertumbuhan ekonomi menjadi 8,9 persen. Padahal sebelum Covid-19 pertumbuhan ekonomi tahun ini diangka 5,1-5,2 persen dan pada tahun 2021 sebesar 5,3 persen. Jika dijumlahkan dalam dua tahun pertumbuhan ekonomi tanpa Covid-19 sebesar 10,4 persen.

"Perbedaan 2 tahun ini menunjukkan dampak Covid-19 pada 2022 akan kembali kepada tren jangka panjang karena faktor base efek sudah hilang dan bisa tumbuh 5,4 persen," kata Perry.

5. Institute For Development of Economics and Finance (INDEF)

Melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal I 2020 hanya sebesar 2,97 persen. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksikan untuk kuartal II dan seterusnya akan terkontraksi atau tumbuh negatif.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan apabila penanganan covid-19 tidak selesai dalam waktu tiga bulan, maka pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 akan mencapai -0,15 persen.

Tapi jika hingga bulan Juni kurva Covid-19 belum melandai, maka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 diproyeksikan akan berada di angka -0,69 persen atau memasuki skenario sangat berat sekali.

Kendati begitu, Rizal mengatakan pertumbuhan negatif itu diprediksi akan berbalik positif pada tahun 2021 dengan pertumbuhan sebesar 5,77 persen. 

Tentunya proyeksi 2021 tersebut mengasumsikan stimulus fiskal dapat berjalan dengan baik, disertai dengan kebijakan moneter yang saling memperkuat dan berkontribusi ke pertumbuhan ekonomi yang semakin prudent. Apabila tak terjadi demikian, proyeksi tersebut bisa jadi berubah.