Sukses

Kondisi Terakhir Penanganan Tumpahan Minyak di Pesisir Pantai Makassar

Liputan6.com, Jakarta Terjadi tumpahan minyak di pesisir Pantai Makassar, Sulawesi Selatan. PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) VII bergerak cepat berupaya menanggulanginya.

Tim gabungan yang terdiri dari fungsi Health Safety Security Environment (HSSE), Marine VII dan Supply & Distribution VII mengambil berbagai langkah demi mencegah penyebaran minyak lebih luas lagi.

Unit Manager Communication & CSR MOR VII Pertamina, Hatim Ilwan, menjelaskan bahwa penanggulangan kebocoran minyak ini dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di Pertamina.

“Kami telah melakukan upaya terbaik agar tumpahan minyak tidak meluas dan dampak yang ditimbulkan bisa seminim mungkin,” jelas dia dalam keterangannya, Jumat (21/5/2020).

Dilaporkan bahwa kejadian terjadi saat start bunker produk Low Sulfur Fuel Oil (LSFO) ke Liquid Petroleum Gas Carrier (LPGC) Arimbi di dermaga 2 Integrated Terminal (IT) Makassar pada Rabu (20/5/2020).

Dugaan awal, terjadinya kebocoran bahan bakar yang biasa digunakan untuk mesin kapal ini berasal dari flange to flange jalur pipa bunker yang secara lokasi tidak terlihat oleh kasat mata lantaran posisinya tertutup plat sehingga bocoran minyak melebar ke arah bibir pantai.

Saat diketahui terjadinya kebocoran, operasi langsung dihentikan dan dilakukan penanganan tumpahan.

Tim penanggulangan tumpahan Integrated Terminal Makassar segera melakukan perbaikan dan pemasangan oil boom di area tumpahan untuk mengurung minyak agar tidak menyebar luas. Meski sudah terpasang oil boom tetapi masih ada yang lolos.

Minyak yang lolos itu kemudian segera ditanggulangi dengan menggunakan Absorbent Pad dan Dispersant.

 

2 dari 2 halaman

Kondisi Terbaru

Sampai dengan Jumat pagi (21/5/2020), lanjut Hatim, area tumpahan minyak sudah tidak terlihat lagi dan hanya menyisakan sedikit film minyak di daerah dermaga.

“Minyak yang tumpah diperkirakan sebanyak 11 liter berjenis LSFO. Faktor arus laut yang agak tinggi serta karakter minyak dengan kekentalan (viskositas) tinggi, memang sempat membuat penyebaran menjadi lebih luas,” lanjut dia.

Meski sebagian besar tumpahan minyak sudah tidak nampak, Hatim menambahkan bahwa hingga saat ini pihaknya masih terus berupaya mencari dan membersihkan sisa-sisa tumpahan minyak yang masih ada.

“Koordinasi yang baik terhadap pihak-pihak yang berkepentingan juga terus dibangun sebagai bagian dari upaya penanggulangan tumpahan minyak ini,” pungkasnya.