Sukses

Garuda Indonesia, Maskapai Bintang 5 Kok Selundupkan Harley?

Liputan6.com, Jakarta - Garuda Indonesia merupakan maskapai berlebel Bintang 5 dari Skytrax. Di dunia, lebel Bintang 5 ini hanya dimiliki delapan maskapai, yaitu All Nippon Airways (ANA), Asiana Airlines, Cathay Pasific, Hainan Airlines, Qatar Airways, Singapore Airlines, EVA Air dan Garuda Indonesia.

Lalu, dengan statusnya tersebut, mengapa Garuda Indonesia justru menjadi aktor dalam penyelundupan barang mewah seperti Harley Davidson dan sepeda Brompton?

"Kasus penyelundupan onderdil Harley Davidson di Garuda adalah sisi gambar lain dari banyaknya kasus korupsi di tubuh BUMN. Kasus-kasus tersebut menjadi cerminan nyata bahwa banyaknya pernghargaan yang dikantongi oleh beberapa BUMN selama ini, belum menjadi jaminan profesionalisme," kata Pengamat Ekonomi Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita kepada Liputan6.com, Sabtu (7/12/2019).

Ronny menegaskan, kasus Garuda Indonesia ini harus menjadi peringatan bagi Menteri BUMN Erick Thohir.

Menurutnya, jika korupsi dan kasus penyelundupan bisa terjadi, maka relasi patrimonial BUMN dengan aktor-aktor politik juga berpeluang sama untuk terjadi.

"Artinya, jika BUMN bisa menjadi ajang pemenuhan kepentingan pribadi direksi, maka BUMN pun sangat mungkin menjadi ajang pemenuhan kepentingan partai politik dan lembaga kekuasaan lainya, sebagaimana santer dibakarkan selama ini bahwa BUMN adalah ATM partai-partai," tegas dia.

 

2 dari 4 halaman

Saran untuk Menteri BUMN

Untuk itu, dirinya menyarankan kepada Erick Thohir untuk melakukan pembenahan BUMN secara keseluruhan.

"Jadi, sekedar pergantian SDM saja tentu tak cukup. Harus dilakukan pembehanan sistem, dan itu harus dimulai dari kementerian BUMN dan Deputi-Deputi yang membawahi BUMN-BUMN. Mekanisme rekruitmen direksi harus benar-benar menggunakan merit system dengan reward dan punishment yang jelas," terang dia.

3 dari 4 halaman

Curhat Karyawan Garuda Indonesia Selama Dipimpin Ari Askhara

Ketua Ikatan Keluarga Garuda Indonesia (IKAGI) Zaenal Muttaqin membeberkan kebijakan kontrovesial I Gusti Ngurah Askhara atau bisa disapa Ari Askhara selama menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero).

Salah satunya, Askhara pernah mengubah rute perjalanan Jakarta-Amsterdam menjadi Jakarta-Denpasar-Medan dan Amsterdam. Perubahan rute ini membuat awak kapal bekerja lebih ektra dari jadwal penerbangan seharusnya.

"Perjalanan ini jadi sangat panjang sekali dan itu merugikan kami sebagai awak kapal," kata Zaenal di Jakarta, Jumat (6/12).

Panjangnya rute ini membuat awak kabin Garuda Indonesia kelelahan. Masa istirahat pun tetap sama yakni 12 jam. Rentang waktu ini pun sudah termasuk perjalanan transportasi dari bandara menuju tempat istirahat.

Saat itu dia juga tidak mengetahui alasan perubahan rute. Para awak kabin tidak diberitahukan alasan mendasar perubahan rute tersebut.

"Kapasitas kami hanya menjalankan tugas tidak menanyakan paling detil," ujarnya.

Lebih jauh Zaenal menyebut segala pernyataan dari Askhara merupakan perintah bagi para karyawan Garuda Indonesia. Padahal dalam membuat aturan atau kebijakan seharusnya melalui kesepatan antara perusahaan dengan karyawan. Caranya melalui kesepakatan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).

"Perjanjian Kerja Bersama inilah yang mengatur hak dan kewajiban," katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mantan Pramugari Garuda Mengaku Dirugikan atas Cuitan Akun @digeeembok
Artikel Selanjutnya
Tak Miliki Rute ke Wuhan, Garuda Indonesia Tetap Antisipasi Penyebaran Virus Corona