Sukses

PLTU Suralaya Dituding Penyebab Polusi Jakarta, Ini Pembelaan PLN

Liputan6.com, Jakarta - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya menjadi sorotan belakangan ini, sebab diduga menjadi penyumbang polusi udara Jakarta oleh beberapa pihak.

PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Suralaya selaku merespon dugaan tersebut, dengan menjabarkan sejumlah fakta terkait pe‎ngoperasian PLTU dengan total kapasitas 4.025 Mega Watt (MW) tersebut.

General Manager PLTU Suralaya Amlan Nawir mengungkapkan, berdasarkan topografi PLTU Suralaya terkurung bukit-bukit yang ada di pinggiran Selat Sunda.

"Saya cerita topografi Suralaya, ini perbukitan. Suralaya itu dibalik bukit Selat Sunda," kata Amlan, di PLTU Suralaya, Cilegon Banten, Selasa (24/9/2019).

‎Untuk menanggapi kabar pencemaran udara Jakarta akibat PLTU, Indonesia Power pun menggandeng konsultan untuk mengevaluasi kondisi hasil pembakaran batubara dari PLTU Suralaya.

"Pencemaran Jakarta dari Suralaya, kami coba hier konsultan untuk melakukan riset. Ini data dilakukan PT Ganesha Environmental &Energy Services‎," tuturnya.

Dari hasil evaluasi, asap hasil pembakaran sebagian besar batubara terbawa angin ke arah utara dan selatan atau menuju Samudera Indonesia, sedangkan Jakarta berada di sisi timur pembangkt tersebut.

"Ada memang angin barat tapi relatif lebih kecil. Data menunjukan 60 persen kecepatan angin ke utara dan selatan.‎ Ini ke laut perginya," lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Baku Mutu Emisi PLTU Suralaya

Berdasarkan baku mutu emisi harian yang dihasilkan pembangkit tersebut, berada di kisaran 24,402 sampai 40,897 mikro gram per meter kibik, lebih rendah dari standar pemerintah 230 mikro gram per meter kibik. Sedangkan sebaran emisi tersebut paling jauh mencapai 5 kilo meter (Km), sementara jarak dari PLTU Suralaya ke Jakarta mencapai 150 km.

"Jatunya paling jauh 4,18 -5 km, jarak Jakarta Suralaya itu 150‎ km. Dari data ini kami meyakini isu yang tersebar adalah hoaks, kami mematuhi pemerintah," ujarnya.

Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah menuturkan, dilihat dari cerobon‎g asap pembuangan hasil pembakaran batubara, tidak ada kepulan asap tebal. Hal ini menunjukan emisi karbon tertangkap dengan sempurna.

"Artinya teman Indonesia Power mampu membuat operasi itu sempurna, pembakaranya sempurna sehingga penangkap debu yang keluar lewat cerobong tertangkap 99 pesen," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Dituding Jadi Biang Keladi Kematian Penyu, Ini Jawaban PLTU Bengkulu
Artikel Selanjutnya
Batu Bara Masih jadi Bahan Bakar Paling Murah untuk Pembangkit Listrik