Sukses

Boeing Kehilangan Gelar Produsen Pesawat Terbesar di Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Sejak dilarang terbang pada lima bulan lalu, Boeing melaporkan hingga saat ini tidak ada pesanan terbaru untuk pesawat jenis 737 MAX-nya.

Melansir dari laman CNBC, Boeing hanya mengirimkan total 239 pesawat pada pertengahan tahun ini. Angka ini turun 37 persen dibanding enam bulan pertama pada 2018. Tentunya hal ini sangat membuat Boeing kesulitan.

Tidak adanya pemesanan terbaru, pada Juni ini menandai bulan ketiga berturut-turut Boeing tidak menerima pesanan terbaru untuk pesawatnya, khususnya 737 MAX.

Hal ini akan membuat Boeing kehilangan gelarnya sebagai produsen pesawat terbesar di dunia. Saat ini, para konsumen yang biasa memesan 737 MAX kebanyakan beralih ke Airbus A320.

Setelah kecelakaan fatal yang menewaskan 346 orang, pesawat Boeing 737 MAX sudah dilarang untuk terbang sejak pertengahan Maret lalu.

Berdasarkan laporan penyidik, penyebab kecelakaan hebat ini terjadi akibat dari kesalahan yang sama. Menanggapi perihal ini, hingga saat ini Boeing telah menyiapkan perbaikan perangkat lunak untuk 737 MAX-nya, namun sayangnya hingga saat ini para regulator belum juga mengizinkan pesawat ini untuk mengudara kembali.

Baik Boeing dan beberapa maskapai yang memesannya sudah dipaksa untuk mengandangkan pesawat jenis 737 MAX ini.

2 dari 2 halaman

Saham Boeing Naik 0,6 Persen

Awalnya, Boeing berharap akan terjadi peningkatan produksi menjadi 57 per bulan, namun sayangnya, mereka malah harus rela memangkas seperlima produksi 737 MAX menjadi hanya 42 pesawat pada April. Sementara itu, perusahaan yang berbasis di Chicago ini mengatakan, saat ini pesawat 737 MAX ada sekitar 4.600.

Kendati demikian, ternyata bulan lalu Boeing telah mendapatkan kepercayaan dari International Consolidated Airlines Group yang berencana membeli 200 pesawat jenis 737 MAX-nya. Namun pesanan tersebut belum dimasukkan dalam catatan karena pesanan tersebut belum selesai.

Sayangnya, akhir pekan lalu Flydeal sebuah maskapai Arab Saudi telah membatalkan pesanan sementara mereka untuk 50 pesawat jenis 737 MAX, dan menggatinya dengan memesan A320 dari Airbus.

Meskipun mengalami penurunan jumlah pemesan, hal ini malah membuat nilai sahamnya naik 0,6 persen menjadi USD 353,09 per lembarnya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Maskapai Arab Saudi Batal Pesan 50 Pesawat Boeing 737 MAX
Artikel Selanjutnya
Boeing Janjikan Rp 1,4 Triliun untuk Keluarga Korban Kecelakaan