Sukses

Semua Negara Menderita Akibat Perang Dagang AS-China

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, semua negara menderita akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Perang dagang tersebut membuat pertumbuhan ekonomi terus menurun dari proyeksi yang telah ditetapkan pada awal tahun.

"Ya semua sudah memangkas dan OECD terlambat untuk memangkas jadi memang itu adalah perkiraan semua pihak. Bahwa perang dagang tidak menguntungkan siapa-siapa walaupun Donald Trump yakin menang, pasti semuanya menderita," ujar Darmin di Kantornya, Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Perang dagang yang terjadi terus-menerus tersebut, kata Darmin, membuat Indonesia bekerja keras untuk mendongkrak ekonomi. Apalagi saat ini pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Buat kita itu artinya harus semakin berusaha dan makin keras berusaha mempertahankan apa yang telah dicapai. Sehingga kita bisa mempertahankan pertumbuhan tetap masih bisa didorong lebih tinggi," jelasnya.

Mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut menambahkan, pemerintah saat ini masih terus berupaya menggerakkan sektor-sektor yang dapat diandalkan mendongkrak ekspor dan investasi. Khusus investasi, Indonesia bersaing dengan Thailand dan Vietnam dalam merebut investor dari China.

"Peluang mengisi yang tadinya berlangsung dalam perang dagang ini atau mengundang investor tadinya mungkin dari China untuk tidak kena bea masuk. Kita bisa mencari jalan mengembangkan ke Indonesia tapi jangan lupa Vietnam juga mau begitu, Thailand juga mau begitu. Sehingga itu berarti kemampuan masing-masing untuk mengundang," tandasnya.

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

AS Tak Bakal Rugi Akibat Perang Dagang

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali berlanjut disebut tidak akan merugikan AS. Dampak ke Negeri Paman Sam dinilai akan kecil meski ada adu tarif besar-besaran.

Alasan kuatnya ekonomi AS adalah diversifikasi. Artinya, AS mengandalkan beragam sektor sebagai penghasilan ekonomi mereka dan tidak bergantung ke satu saja.

"Saya pikir AS adalah ekonomi yang begitu besar dan terdiversifikasi sehingga dampak terhadap ekonomi keseluruhan akan relatif kecil," ujar Presiden Federal Reserve dari St. Louis, James Bullard, seperti dikutip Reuters. 

Menurut Bullard, perang dagang baru akan merugikan AS jika terjadi dalam jangka panjang. Selain itu, negara-negara luar AS yang tergantung pada dagang juga lebih merasakan dampak perang dagang.

Umumnya, negara-negara itu hanya terseret oleh perang dagang yang terjadi. Pakar dari Morgan Stanley pun mengatakan buntunya negosiasi perang dagang bisa membawa resesi ke ekonomi seluruh dunia. 

"Jika pembicaraan ini terhambat, tak ada kesepakatan yang disetujui, dan AS menerapkan 25 persen tarif kepada sekitar USD 300 miliar barang impor China, kami melihat ekonomi global menuju resesi," jelas Morgan Stanley.

Resesi ekonomi dunia ditandai pertumbuhan di bawah 2,5 persen. Tahun ini, IMF memperkirakan pertumbuhan dunia adalah 3,3 persen tahun ini, turun dari perkiraan tahun 2018 yakni 3,7 persen.

Perang dagang AS-China kembali berlanjut ketika Presiden Donald Trump menerapkan tarif baru pada Jumat, 10 Mei 2019. Kedua negara sempat mengambil gencatan senjata pada Desember lalu. Negosiasi dagang pun masih terus berlanjut.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ini Batas Waktu Peserta Pemilu Serahkan Berkas Gugatan ke MK Besok
Artikel Selanjutnya
Kemenko Perekonomian Gelar Bazar, Minyak 1 Liter Cuma Rp 8.000