Sukses

Wawancara Dirut Krakatau Bandar Samudera: Mewujudkan KBS Jadi Port Centric Integrated Logistics Company

Liputan6.com, Jakarta Siapa yang tak kenal PT Krakatau Steel (KS), perusahaan baja terbesar di Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan nasional, perusahaan juga memasok pasar baja di negara lain. Adalah anak usaha KS, yakni PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) yang ikut memberikan dukungan pada kinerja induk usahanya. 

KBS saat ini mengelola Pelabuhan Cigading, Banten. Saat ini kapasitas total pelabuhan Cigading, mencapai 21 juta ton. Dari pelabuhan kelolaan KBS, Krakatau Steel mengirim produknya ke wilayah lain di Indonesia maupun luar negeri.

KBS memiliki beberapa lini bisnis, antara lain pelabuhan dan logistic service. Adapun penyumbang terbesar terhadap kinerja perusahaan masih pada bisnis pelabuhan yang mencapai 75 persen.

Dalam visi misinya, KBS bermimpi menjadi badan usaha pelabuhan terkemuka di Indonesia. Dengan misi berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan bermanfaat dalam industri kepelabuhanan dan yang terkait bagi stakeholder serta lingkungan sekitar.

Ingin tahu sepak terjang KBS di sektor kepelabuhan dan logistik, berikut petikan wawancara Liputan6.com dengan Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera, Alugoro Mulyowahyudi:

 1. Bagaimana kinerja perusahaan pada kuartal I-2019?

Untuk kinerja kami di triwulan I dari sisi pendapatan dan laba sudah bisa mencapai target RKAP. Dari sisi pendapatan realisasi dari pendapatan kita, triwulan 1 adalah Rp 361 miliar sedangkan RKAP Rp 330 miliar. Dibandingkan setahun lalu pendapatan kami ini naik hampir 15 persen.

Laba bersih juga di atas RKAP, di mana triwulan I, laba bersih kita mencapai Rp 57 miliar, sedangkan RKAP Rp 56 miliar. Target kami pendapatan Rp 1,5 triliun, dan sisi laba bersih Rp 220 miliar.

2. Lini bisnis KBS penyumbang pendapatan terbesar apa?

Kita punya beberapa lini bisnis, bisnis pelabuhan dan logistic service. Saat ini penyumbang paling banyak di bisnis pelabuhan yang mencapai 75 persen.

3. Seberapa besar capex kuartal 1 dan untuk apa saja?

Untuk capex kami di 2019 nilainya Rp 621 miliar, sampai triwulan I, penyerapan sudah 30 persen dan paling besar kita gunakan untuk pembangunan penyelesaian dermaga 7.1 dan 7.2.

Kemudian kita juga beli crane paling cepat di ASEAN yang dibeli dari Swiss. Nanti kita juga akan beli crane baru juga untuk pengganti crane di dermaga 1.2 dan 1.3.

4. Apa upaya perusahaan untuk meningkatkan porsi dividen ke induk perusahaan?

Peran dari KBS untuk menunjang kinerja induknya, pertama kita selalu meningkatkan kecepatan bongkar muat supaya saat melayani kapal KS bisa lebih cepat.

Selain itu, kita sudah siapkan waktu spesial buat KS. Artinya kapanpun KS minta kita sandarkan kapalnya, baik untuk kebutuhan ekspor atau impor, KS punya special treatment. Sebagai anak usaha KS, tentunya KSB akan meningkatkan pendapatan dan labanya.

Terus terang target kami laba ada peningkatan sampai 50 persen. Tahun lalu Rp 150 miliar tahun ini Rp 250 miliar. Dengan begitu tentunya dividen yang kita berikan ke induk akan meningkat juga 50 persen.

5. Untuk meningkatkan laba dan pendapatan tersebut, apa strateginya?

Pertama kita sudah bentuk anak usaha dalam bidang logistic service yang disebut Krakatau Jasa Logistik dan kita juga sudah akuisisi dua anak usaha yaitu PT Multi dan Wahana Sentana Baja.

Jadi total KBS punya 4 anak usaha dimana dari sisi pendapatan akan meningkat dan kita ingin menjadi port centric logistic company.

Kami di KBS dan keempat anak usaha ditargetkan, tidak hanya punya pasar di wilayah Banten tapi juga di seluruh Indonesia.

Dari sisi pasar akan meningkat dan pelabuhan baru akan beroperasi di Juni. Kita akan operasikan dua slot JT baru di demaga 7.1 dan 7.2. Sehingga terjadi peningkatan kapasitas 3,5 juta ton, sehingga kapasitas KBS di pertengahan tahun ini 25 juta ton dan itu menjadi pelabuhan curah kering terbesar di Indonesia.

 

 6. Sekarang kelola berapa pelabuhan?

Total pelabuhan ada 7. Tapi satu pelabuhan ada slot-slotnya begitu. Misal di dermaga 1 ada 8 slot sekarang 7 dermaga dengan 15 slot. Selesainya JT 7.1 dan 7.2 jadi nanti ada 17 slot.

7. Ada rencana penambahan usaha lagi?

Belum, karena kita baru saja akuisisi dua anak perusahaan dan bentuk anak usaha baru.

Kita akan perkuat perusahaan dulu sehingga visi menjadi port centre lgositic company bisa berjalan dengan baik. Tapi di masa depan kita ingin masuk sebagai value chain company.

Jadi nggak hanya bisnis di pelabuhan tapi juga akan masuk ke trading company. Ini visi di 3 tahun ke depan.

8. Inovasi apa yang dilakukan KBS dalam mendorong efisiensi logistik?

Yang pertama, kita akan pasang crane paling cepat di ASEAN tadi. Jadi crane itu nggak menggunakan sistem grab tapi pakai chain dan muter terus. Itu kecepatannya tiga kali lipat dari crane biasa. Biasanya 7.500 ton per day ini bisa 20 ribu tpm per day.

Kemudian crane itu kita hubungkan dengan conveyor line sehingga produk bisa dituangkan di situ dan langsung masuk ke gudang. Kalau sekarang kan grab dan masukkan truk. Jadi lama.

Jadi kecepatan bongkar muat bisa 3 kali lipat dari yang sekarang. Artinya nanti crane yang baru bisa me-replace 3 crane yang ada. Nanti lebih cepat, lebih efisien dan nanti dari sisi customer bisa lebih murah. Lebih cepat lebih murah itu kan yang dicari konsumen kan.

9. Ada masukan ke regulator, kendala apa yang dihadapi KBS di lapangan?

Pertama, saat ini ada persaingan bisnis tidak sehat. Ada beberapa pelabuhan khusus, yaitu Terminal untuk Keperluan Sendiri (TUKS) itu yang diperbolehkan untuk layani umum. Padahal asetnya tidak dikonsesikan ke negara.

Kami ini punya pelabuhan umum yang asetnya dikonsesikan ke negara dan kita bayar fee. Nah, ini kalau bisa pemerintah menertibkan TUKS yang sebenarnya untuk keperluan sendiri dan malah melayani umum.

Kedua, aspirasi kami mungkin birokrasi di Kemenhub bisa lebih slim lagi dan lebih cepat supaya waktu menyelesaikan perizinan itu bisa lebih cepat sehingga bisnis kami bisa lebih cepat dalam layani konsumen.

Misal izin pengoperasian dermaga baru, izin untuk memberikan konsesi ke negara, izin reklamasi dan sebagainya, mungkin lebih baik ada percepatan atau penyederhanaan birokrasi di Kementerian Perhubungan.

 

Simak videonya:

Loading
Artikel Selanjutnya
Wawancara Khusus Menhub: Bandara Baru Yogyakarta Gerbang Menuju Bali Baru
Artikel Selanjutnya
Wawancara Khusus Dirut KAI: Rahasia Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran