Sukses

Harga Minyak Bervariasi Terimbas Tensi Perdagangan AS-China

Liputan6.com, New York - Harga minyak mentah dunia bervariasi, dipicu ketegangan perdagangan seiring langkah Amerika Serikat (AS) untuk menaikkan tarif barang-barang impor dari Cina. Harga juga dibayangi pengetatan pasokan global dan ekspektasi kenaikan permintaan penyulingan AS.

Melansir laman Reuters, Sabtu (11/5/2019), harga minyak mentah Brent ditutup 23 sen, atau 0,4 persen lebih tinggi ke posisi USD 70,62 per barel. Namun harga tetap membukukan kerugian mingguan sebesar 0,3 persen.

Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir 4 sen lebih rendah menjadi USD 61,66, dengan penurunan secara mingguan 0,5 persen.

Setelah minggu yang bergejolak, investor khawatir tentang kemungkinan perang perdagangan AS-Tiongkok yang berlarut-larut, meskipun terlihat ada upaya menit terakhir untuk menyelamatkan kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat mengaku tidak akan terburu-buru untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dengan China ketika Washington memberlakukan tarif baru untuk barang-barang negara ini dan para negosiator mengakhiri pembicaraan hari kedua.

Ketegangan perdagangan yang meningkat antara dua konsumen minyak terbesar dunia dapat memengaruhi permintaan minyak.

Amerika Serikat dan China bersama-sama menyumbang 34 persen dari konsumsi minyak global pada kuartal pertama 2019, data dari Badan Energi Internasional.

 

2 dari 3 halaman

Pemicu Lainnya

Namun harga minyak juga mendapat beberapa dukungan pada hari Jumat karena investor mengantisipasi langkah pemeliharaan Gulf Coast AS dan kilang Midwestern.

"Minyak mentah memiliki potensi lebih besar untuk naik," kata Tom Kloza, Kepala Analis Minyak pada Pusat Layanan Informasi Minyak. "Dengan dimulainya pengilangan Teluk, permintaan akan secara signifikan di atas pasokan untuk sekitar 100 hari ke depan."

Investor juga fokus pada pengetatan pasokan menyusul pengurangan produksi yang dipimpin OPEC sejak awal tahun. Investor percaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu produsennya tersebut akan memperpanjang perjanjian pengurangan produksi enam bulan dalam beberapa minggu mendatang.

"Kami menunggu untuk melihat apakah Saudi memberi sinyal perpanjangan produksi mereka dalam beberapa minggu mendatang. Pasar sedang mencari pendorong berikutnya," kata Gene McGillian, Wakil Presiden Riset Pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut. 

Pasar juga didukung tawaran Washington untuk memangkas ekspor minyak Iran menjadi nol. Amerika Serikat menerapkan kembali sanksi terhadap Iran pada November setelah menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia tahun lalu.

Ini pada awalnya memungkinkan pembeli terbesar Iran untuk terus membeli minyak melalui keringanan selama enam bulan lagi, tetapi pengecualian itu berakhir pada awal Mei.

3 dari 3 halaman

Surat Presiden China ke Donald Trump Picu Harga Minyak Naik

Harga minyak mentah dunia sedikit lebih tinggi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberi harapan investor, jika pemerintahnya bisa saja tidak menaikkan tarif impor terhadap China. Kenaikan tarif dinilai menjadi langkah yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Melansir laman Reuters, Jumat (10/52019), harga minyak Brent naik 2 sen lebih tinggi menjadi USD 70,39 per barel, rebound dari sesi rendahnya di USD 69,40 per barel.

Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 42 sen menjadi USD 61,70 per barel.

Perselisihan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia dan penurunan tajam di pasar ekuitas global telah memukul harga minyak. Dampaknya melebihi ketegangan geopolitik dan pengurangan pasokan yang telah menurunkan pasokan global dari Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.

Harga minyak sempat memantul memantul dari posisi terendahnya setelah Trump mengatakan jika dia menerima surat dari Presiden Cina Xi Jinping. Trump mengutip surat itu dengan mengatakan isinya, "Mari bekerja sama, mari kita lihat apakah kita bisa menyelesaikan sesuatu."

Surat itu memberi harapan para investor jika Washington dan Beijing dapat mencapai kesepakatan perdagangan, menurut kata Bob Yawger, Direktur Energi di Mizuho di New York.

"Perselisihan perdagangan telah menyeret pertumbuhan ekonomi di Asia dan gangguan dalam negosiasi Tiongkok-Amerika dapat membuat perkiraan permintaan minyak mentah global dipertanyakan," kata John Kilduff, agen di Again Capital Management LLC.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Harga Minyak Indonesia Naik Dipicu Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Artikel Selanjutnya
Harga Minyak Naik karena Ketegangan Iran dan Pengurangan Produksi OPEC