Sukses

Ritel Melambat, Ekonomi RI Bakal Tumbuh 5,1 Persen pada Kuartal I 2019

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah prediksi ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5 hingga 5,1 persen pada kuartal I 2019. Hal ini karena melambatnya penjualan ritel sejak awal tahun.

"Paling 5,1 persen perkiraan saya. Karena memang triwulan-I ini inflasi stabil. Inflasi inti juga tidak mengalami kenaikan yang cukup dan data retail juga tidak ada lonjakan. Artinya kita tidak bisa berharap ekonomi kita mengalami lonjakan," ujar dia di Hongkong Cafe, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Terkait perang dagang AS dan China yang mulai melambat, Piter melihat, belum memberi pengaruh besar kepada ekonomi Indonesia. Indonesia justru saat ini dinilai perlu membenahi investasi dan konsumsi dalam negeri. 

"Sebenarnya ekonomi kita tidak bisa dikatakan sangat bergantung pada eksternal karena ada investasi dan konsumsi. Jadi bukan ekspor. Jadi perlambatan global tidak berdampak langsung kepada ekonomi kita," kata dia. 

Piter melanjutkan, pemerintah juga perlu menjaga kepercayaan investor agar tidak ragu terhadap pemilihan umum yang akan diselenggarakan pada 17 April mendatang. Sebab, saat ini hingga pemilu selesai akan banyak investor yang menahan diri menanamkan dananya. 

"Triwulan II juga masih sama dengan triwulan I karena terkait pemilu. Karena investor pasti wait and see. Dia akan melihat siapa yang menang dan programnya seperti apa baru dia akan mengambil keputusan," tutur dia. 

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 4 halaman

ADB Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen pada 2019

Sebelumnya, Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,2 persen pada 2019. Kemudian pertumbuhan ekonomi itu mencapai 5,3 persen pada 2020.

Hal itu disebutkan dalam laporan ekonomi tahunan ADB yaitu Asian Development Outlook (ADO) 2019.

Berdasarkan laporan baru Asian Development Bank (ADB) itu, ekonomi Indonesia masih akan ditopang dari kuatnya permintaan domestik.

"Dengan dukungan dari manajemen makroekonomi yang solid dan permintaan domestik yang kuat, momentum pertumbuhan Indonesia diharapkan berlanjut secara sehat," ujar Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein, seperti dikutip dari laman ADB, Kamis 4 April 2019.

Lebih lanjut ia menuturkan, untuk lebih lanjut mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif diperlukan fokus yang berkesinambungan pada peningkatan daya saing, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan penguatan ketangguhan.

ADO mengulas, investasi domestik yang kuat dan konsumsi domestik yang baik mampu mengimbangi pertumbuhan ekspor lebih lemah pada 2018, sehingga memungkinkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen.

Investasi yang kuat didorong terutama proyek infrastruktur publik di transportasi dan energi. Pertumbuhan sektor industri terakselerasi seiring meningkatnya keluaran dari pertambangan. Selain itu, ekspor seperti pakaian jadi dan alas kaki juga menguat.

ADO menyebutkan pertumbuhan pada 2019 dan 2020 kemungkinan terjadi di berbagai sektor.

Sejumlah proyek infrastruktur publik utama, baik yang sudah selesai dan dalam tahap penuntasan, memberikan fondasi kuat bagi peningkatan investasi swasta.

Perbaikan terhadap iklim investasi seperti perampingan administrasi pajak dan penyederhanaan perizinan usaha diyakini akan makin mendukung sentimen positif investor.

Sementara itu, permintaan domestik diyakini akan tetap kuat dalam jangka pendek. Ini karena meningkatnya lapangan kerja di sektor formal dan diperluasnya program bantuan sosial pemerintah.

 

 

3 dari 4 halaman

Inflasi Bakal Tetap Rendah

Inflasi akan tetap rendah dan stabil sebesar 3,2 persen pada 2019 dan 3,3 persen pada 2020 sehingga bantu jaga momentum pertumbuhan belanja swasta.

Kuatnya permintaan domestik mendorong impor barang tahun lalu. Sedangkan pertumbuhan ekspor barang melambat.

Peningkatan ekspor jasa bersih dari kenaikan pendapatan pariwisata dan remitansi mampu sebagian mengimbangi turunnya neraca perdagangan sehingg menjadi defisit transaksi berjalan sebesar tiga persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun lalu.

Defisit transaksi berjalan akan membaik ke 2,7 persen dari PDB 2019 dan 2020. Ini karena pertumbuhan barang impor dan ekspor yang melambat. Sedangkan pemasukan dari pendapatan pariwisata akan terus berlanjut.

Risiko terhadap proyeksi ekonomi Indonesia umumnya disebabkan faktor eksternal yang termasuk meningkatnya ketegangan perdagangan global dan volatilitas pasar keuangan internasional,serta kemungkinan terjadinya kekeringan akibat El Nino.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
BNI: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun Depan Masih di Atas 5 Persen
Artikel Selanjutnya
Malaysia Masuk Negara Berpendapatan Menengah ke Atas, Indonesia Kapan?