Sukses

Blackbox Lion Air JT 610: Takbir Terdengar Sebelum Pesawat Jatuh

Liputan6.com, Washington D.C. - Kabar terbaru mengenai jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 mengungkap kata-kata terakhir pilot sebelum pesawat hilang kendali. Kata takbir pun terekam di blackbox.

Dilaporkan NBC News, pada menit-menit akhir, kapten Bhavye Suneja yang berasal dari India tidak bersuara, sementara first officer (kopilot) asal Indonesia, Harvino, terdengar bertakbir.

Kabar ini terkuak dari tiga sumber yang berbicara dengan syarat diberi identitas anonim.

Dalam dua menit pertama, kopilot Harvino menyampaikan adanya masalah kendali penerbangan (flight control problem) kepada air traffic control.

Harvino tidak menjelaskan secara spesifik masalahnya, tetapi seorang sumber berkata kecepatan udara (airspeed) disebutkan dalam rekaman. Sumber lain menyebut indikator menunjukkan masalah di display kapten, bukan di display kopilot.

Menurut tiga sumber tersebut, pilot dan kopilot Lion Air JT 610 tetap bersikap tenang selama hampir seluruh waktu penerbangan. Menjelang akhir, Kapten Bhavye Suneja meminta kopilot untuk memeriksa handbook yang memiliki daftar mengenai kejadian abnormal.

Sistem komputer pesawat Lion Air JT-610 disebut mendeteksi terjadinya stall (aliran angin di sayap pesawat terlalu lemah untuk menerbangkan pesawat). Kapten pesawat berusaha terus menaikkan pesawat tetapi komputer malah tetap mendeteksi stall dan terus mendorong hidung pesawat ke arah bawah.

Pihak investigator sedang menyelidiki faktor-faktor seperti mengapa komputer memerintahkan pesawat untuk menukik atas respons sensor yang faulty, dan juga terkait apakah para pilot telah menjalani pelatihan mumpuni untuk merespons keadaan darurat.

Pihak Lion dan Boeing menolak berkomentar mengenai kabar ini. Pesawat Boeing 737 Max 8 yang digunakan Lion Air JT 610 juga telah disuspens di berbagai negara. 

2 dari 2 halaman

Pemerintah Larang Permanen Boeing 737 Max 8 Terbang di Indonesia

Pemerintah menetapkan larangan permanen untuk pesawat Boeing 737 Max 8 terbang. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan hanya memberikan jangka waktu satu minggu larangan terbang untuk keperluan pemeriksaan.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, larangan permanen juga sudah dilakukan otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA).

"Ban (larangan) permanen sampai ada suatu arahan internasional. Pagi ini FAA sudah melakukan ban terhadap Boeing. Kita bukan seminggu lagi, sudah permanen," ujar dia pada Merdeka.com di Bandara Depati Amir, Bangka Belitung, Kamis, 14 Maret 2019.

Budi menuturkan, saat ini pemerintah masih cek terhadap Boeing 737 Max 8 yang terdapat di Indonesia. Jika tim perhubungan udara menemukan permasalahan di mesin pesawat, pemerintah siap memanggil Boeing untuk dimintai penjelasan.

Keputusan pelarangan selamanya, menurut dia, dimungkinkan tentu setelah pemerintah mengkaji penjelasan dari pihak Boeing. "(Bisa dilarang selamanya?) Tentunya kita komunikasi. Kalau kita menemukan sesuatu, kita harus memberikan kesempatan boeing untuk menjelaskan. Jadi tidak langsung," ujar dia.

Budi memastikan segala perkembangan dan keputusan sudah dan akan dikomunikasikan dengan pihak maskapai pemakai Boeing di Tanah Air. Menurut dia, pihak maskapai sependapat karena menyangkut keselamatan.

"Kita intens dengan Garuda Indonesia dan Lion Air komunikasi dan mereka komit dengan apa yang kita putuskan karena ini menyangkut keselamatan," ujar dia.

Loading
Artikel Selanjutnya
FAA: Mei Jadi Batas Penangguhan Sementara Boeing 737 MAX
Artikel Selanjutnya
Terkuak, Kesamaan Data Satelit Ethiopian Airlines dan Lion Air yang Berakhir Nahas