Sukses

BI Paparkan Jurus Jaga Rupiah dan Inflasi Sepanjang 2018

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan di bidang moneter dan makro prudiential dengan tujuan menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Dia mengungkapkan, salah satu langkah yang diambil BI adalah dengan menaikkan suku bunga acuan seperti yang sudah dilakukan sepanjang 2018.

"Pada triwulan IV 2018, BI naikkan suku bunga sebesar 25 bps dengan level 6 persen pada November 2018," kata Perry dalam acara paparan laporan KSSK, di Gedung Kementerian Keuangan, Selasa (29/1/2019).

Dia menjelaskan, kebijakan suku bunga difokuskan untuk menurunkan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) ke dalam batas aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

"Bl juga terus menempuh strategi operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar rupiah maupun pasar valas (valuta asing) serta secara efektif memberlakukan transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) mulai 1 November 2018," ujar dia.

Sementara itu, untuk meningkatkan fleksibilitas dan distribusi likuiditas di perbankan, Perry menyatakan BI telah menaikkan porsi pemenuhan GWM Rupiah Rerata (konvensional dan syariah) dari dua persen menjadi tiga persen.

Serta meningkatkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial/PLM (konvensional dan syariah) yang dapat direpokan ke Bl dari dua persen menjadi empat persen.

"Masing-masing dari Dana Pihak Ketiga (DPK)," dia menambahkan.

Di bidang kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia juga mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer(CCB) sebesar 0 persen dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada target kisaran 80-92 persen.

"BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan guna memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar dia.

 

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 2 halaman

BI: Modal Asing Masuk RI Tembus Rp 19,2 Triliun per 24 Januari 2019

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat arus masuk modal asing (capital inflow) ke Indonesia hingga per 24 Januari 2019 telah mencapai Rp 19,2 triliun. Aliran dana tersebut masuk melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan juga saham.

"Confiden dari investor asing terus tumbuh berinvestasi di Indonesia untuk investasi portofolio ini sampai 24 Januari 2019 year to date, aliran portofolio masuk ke Indonesia Rp 19,2 triliun," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo di Komplek Masjid BI, Jakarta, Jumat 25 Januari 2019.

Perry merincikan, dari total aliran modal asing sebesar Rp 19,2 triliun tersebut, yang masuk melalui SBN mencapai Rp 8,02 triliun. Sedangkan ke pasar saham mencapai Rp 12,07 triliun. "Yang lain-lain sekitar sisanya itu di dalam obligasi," jelas dia.

Capaian tersebut membuktikan bahwa tingkat kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih cukup bagus. Hal ini tidak terlepas dari berbagai langkah kebijakan Bank Indonesia, bersama pemerintah maupun Otoritas Jasa Keuangan.

"Kegiatan ekonomi Indonesia akan terus naik, itu terbukti dari terus masuknya aliran modal asing khususnya portofolio ke Indonesia di tengah kondisi global yang masing tidak menentu. Bahkan negara lain aliran portofolio asingnya juga tidak setinggi yang kita alami," kata dia.

Perry menambahkan, capaian tersebut juga secara otomatis mempengaruhi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat atau USD.

"Nilai tukar Rupiah bahkan beberapa hari ini menguat. Jadi sekali lagi kami melihat bahwa Rupiah akan terus bergerak stabil cenderung menguat. Satu faktor bahwa aliran modal asing masuk cukup terus masuk sehingga menambah suplai dari pasar valas," pungkasnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tapi pergerakannya stabil menjelang akhir pekan ini. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) didominasi sentimen global.

Mengutip laman Bank Indonesia (BI), Jumat 25 Januari 2019, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) melemah 0,15 persen dari posisi 14.141 per dolar AS pada 24 Januari 2019 menjadi 14.163 per dolar AS pada 25 Januari 2019.

Sedangkan berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,10 persen ke posisi 14.155 per dolar AS pada Jumat pekan ini dari penutupan kemarin 14.170 per dolar AS. Pada Jumat siang, rupiah bergerak menguat ke posisi 14.152 per dolar AS.  Jelang akhir pekan ini, rupiah bergerak di kisaran 14.149-14.167 per dolar AS.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede menuturkan, sejumlah sentimen global mendominasi sehingga berdampak terhadap pergerakan rupiah. Dari Amerika Serikat (AS), ada rilis data ekonomi yang membuat dolar Amerika Serikat kembali menguat.

"Jobless claim lebih rendah dari perkiraan. Selain itu juga industri manufaktur dan markit service yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga dukung penguatan dolar AS,” ujar Josua saat dihubungi Liputan6.com, Jumat 25 Januari 2019.

Dari Eropa, Josua menuturkan pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi yang kurang agresif atau dovish mengenai ada risiko penurunan di zona Eropa membuat euro melemah.

”Sentimen itu berlanjut hingga hari ini membuat mata uang Asia kembali melemah termasuk rupiah. Meski melemah tapi pergerakan stabil di 14.150," ujar Josua.

Sedangkan dari internal, pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menyatakan kecil untuk memangkas suku bunga acuan juga pengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. BI masih menyoroti perkembangan ekonomi global termasuk negosiasi perdagangan AS-China.

"Ditambah defisit transaksi berjalan yang harus dikontrol," tutur dia.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Menyedihkan, Usaha Bertahan Hidup Penduduk Venezuela

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Rupiah Bakal Menguat terhadap Dolar AS Sepanjang Kuartal I 2019
Artikel Selanjutnya
Kebijakan Trump Akhiri Shutdown AS Sumbang Penguatan Rupiah