Sukses

Terbitkan Global Bond, Inalum Kantongi USD 4 Miliar

Liputan6.com, Jakarta - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mendapatkan kucuran dana dari ‎penerbitan global bond sebesar USD 4 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk akusisi saham PT Freeport Indonesia menjadi 51 persen.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Liputan6.com, di Jakarta, Kamis (8/11/2018), global bond yang ditawarkan terdapat empat tenor, pertama tenor 3 tahun sebesar USD 1 miliar ‎dengan bunga 5,5 persen.

Kedua tenor 5 tahun sebesar USD 1,25 miliar dengan bunga 6 persen, berikutnya tenor 10 tahun sebesar USD 1 miliar dengan bunga ‎6,875 persen, serta tenor 30 tahun sebesar USD 750 juta dengan bunga 7,375 persen.

Untuk mendapatkan dana dari global bond, induk usaha BUMN Pertambangan tersebut telah melakukan ‎roadshow ke Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat dan London.

Saat dikonfirmasi, Head of Corporate Communication Inalum Rendi Achmad Witular belum memberikan jawaban.

Sebelumnya, Inalum tidak memberikan jaminan apapun ke pihak penyedia pinjaman, untuk membeli saham Freeport Indonesia. Baik dari sisi aset atau saham Freeport Indonesia yang dimiliki Inalum.

"Enggak ada yang dijaminkan, enggak ada jaminan saham atau aset," tutur Rendi.

Menurut Rendi, Inalum bisa mendapat pinjaman tanpa jaminan, karena Freeport Indonesia memiliki potensi bisnis yang bagus, tidak memiliki utang dan memiliki keuangan yang baik sehingga bisa menghidupi perusahaan sendiri.

"Karena potensi bisnis Freeport bagus, kedua Freeport Indonesia tidak ada utang, mereka mampu  menghidupi sendiri dan harga yang kita kita dapat murah," paparnya.

2 dari 2 halaman

Inalum Garap Proyek Hilirisasi Tambang Senilai Rp 150 Triliun

Holding Industri Pertambangan (HIP) PT Inalum (Persero) terus mendorong terwujudnya hilirisasi produk sektor pertambangan dalam negeri. Hal itu sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan dengan pihak asing.

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perseroan akan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk merealisasikan proyek-proyek besar bernilai lebih dari USD 10 miliar atau Rp 150 triliun (kurs 1 USD=Rp 15.000).

“Beberapa proyek besar ini langkah nyata kami mendukung terjadinya nilai tambah produk di sektor tambang dan upaya mendukung penghematan devisa negara,” tutur dia di Bontang, Minggu (28/10/2018).

Kata Budi, beberapa kerjasama dengan BUMN dan pihak swasta pun telah ditandatangani dan siap berjalan. Adapun sejumlah proyek hilirisasi yang sudah bergulir antara lain di segmen aluminium, bauksit dan batubara.

Budi melanjutkan, proses hilirisasi di sektor tambang membawa dampak besar bagi Indonesia, terutama dalam mengurangi defisit transaksi berjalan (CAD) yang menimpa Indonesia.

"Jadi hilirisasi bakal bisa berperan meningkatkan balance payment kita dan memperkuat rupiah," jelasnya.

Selain itu, Inalum saat ini tengah dalam proses mengembangkan sayap ke Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, untuk mendirikan pabrik alumunium primer dengan kapasitas 500 kilo ton pertahun, beserta pembangkit listrik tenaga air dengan memanfaatkan sungai Kayan.

"Dengan nilai proyek sebesar USD 6 miliar, ekspansi ke provinsi ini diharapkan dapat dimulai pada tahun depan," ujarnya.

Budi menjelaskan, Inalim bersama anggota HIP PT ANTAM Tbk dan produsen alumina terbesar kedua di dunia Aluminum Corporation of China Ltd (CHALCO) akan bekerja sama membangun pabrik pemurnian untuk memproses bauksit menjadi alumina, yang merupakan bahan baku utama untuk membuat aluminium ingot.

Adapun Inalum merupakan produsen aluminium ingot satu-satunya di Indonesia.

Sebagai informasi, konstruksi proyek yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, ini dilakukan dalam 2 tahap dengan total kapasitas produksi 2 juta metrik ton alumina. Investasi untuk membangun pabrik tahap 1 tersebut diperkirakan sekitar USD 850 juta dan di targetkan mulai produksi pada 2021.

Artikel Selanjutnya
Berakhir Hari Ini, Izin Sementara Freeport Belum Diteken Menteri Jonan
Artikel Selanjutnya
Hilirisasi Batu Bara, Holding Tambang akan Gandeng Perusahaan Amerika