Sukses

100 Kapal Bakal Layani Program Tol Laut hingga Akhir 2018

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan akan ada sekitar 100 kapal untuk proyek tol laut hingga akhir 2018. Namun, sejauh ini dilaporkan baru ada sekitar 86 kapal yang sudah direalisasikan.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan untuk 16 kapal sisanya diharapkan akan berlabuh pada Desember 2018. Sedangkan kemajuan penambahan kapal tersebut Budi menuturkan sudah hampir mencapai 90 persen.

"Kemarin saya datang ke Jawa Timur dan kondisinya ada yang sudah 80-90 persen tinggal diselesaikan aja. Sampai akhir tahun on progress. Saya harapkan Desember ini selesai," ujar dia saat ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Budi menambahkan, kemajuan pengerjaan kapal untuk tol laut sendiri masih akan tetap berlanjut meski sempat tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Sebab, beberapa komponen kapal sebagian masih didatangkan impor

"Progresnya cukup signifikan. Kalau ada masalah dolar AS kita harapkan diselesaikan segera," kata Budi.

Sebelumnya, mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu mengatakan mengungkapkan, beberapa capaian program tol laut sebetulnya sudah semakin membaik. Bahkan, satu tahun ke depan pihaknya akan berusaha menggenjot kinerja proyek tol laut tersebut.

"Saya kemarin ke Jatim (Jawa Timur) ada lagi kapal, 16 kapal yang akan menggantikan kapal-kapal yang ada," kata Menhub Budi saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Senin 23 Oktober 2018.

Budi mengatakan, saat ini pemerintah fokus untuk meningkatkan kualitas dan penambahan jarak pada tol laut. Dalam hal ini, Kemenhub akan menggandeng pihak swasta di kawasan Timur.

"Tambah trayek kira-kira tiga sampai lima trayek lagi. Tapi dari yang ada mungkin kita akan adakan sesuatu perubahan-perubahan juga," sebutnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini sebanyak 15 trayek Tol Laut yang telah beroperasi antara lain Trayek T-1 rute Teluk Bayur - P. Nias (Gn. Sitoli) - Mentawai (Sikakap) - P. Enggano - Bengkulu PP, Trayek T-6 rute Tanjung Perak - Tidore - Morotai - PP, dan T-15 rute Tanjung Perak - Kisar (Wonreli) - Namrole PP.

Sebagai informasi, tol laut merupakan program Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan telah dilaksanakan sejak 2015 untuk mencegah disparitas harga komoditas di Indonesia bagian Barat dan Timur.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Maksimalkan Program Tol Laut, Pemerintah Gandeng BUMN dan Swasta

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan terus menggenjot program tol laut demi mempermudah distribusi logistik dari bagian barat Indonesia menuju kawasan timur. Salah satu langkahnya yakni dengan merangkul pihak BUMN dan swasta untuk berpartisipasi bersama.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan, program tol laut ini penting demi menurunkan disparitas harga barang produktif di Timur Indonesia seperti pangan dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Tidak mudah memang bagi kami menjalankannya. Kami bekerja sama dengan swasta dan bumn menjalankan 15 trayek tol laut yang hari ke hari makin efisien demi mengurangi disparitas harga di indonesia bagian timur, khususnya Natuna," kata dia di Jakarta, Rabu 24 Oktober 2018.

Namun begitu, ia menyatakan, distribusi barang produktif menuju Indonesia bagian timur hingga kini masih terbilang belum maksimal. Sehingga, lanjutnya, ia coba menarik pihak BUMN dan swasta untuk bekerjasama.

"Oleh karenanya saya menugaskan sektor swasta dan BUMN bekerja sama mengangkut barang-barang seperti rumput laut, ikan, kayu , dan sebagainya. Inisiatif ini sudah membuahkan hasil ada suatu manfaat bisnis baru," sambungnya.

Selain tol laut, Menteri Budi mengungkapkan, pemerintah juga membangun tol udara. Lewat tol udara, sambung dia, berton-ton logistik dapat didistribukan dan mensubsidi penumpang.

"Sebagai catatan, kesetaraan wilayah dalam infrastruktur menjadi konsen dari kami. Sehingga banyak kegiatan-kegiatan tidak saja ada di perkotaan, tapi juga di desa-desa," ujarnya.

Hingga kini tercatat, ia mengatakan, sudah dibangun 10 proyek yang mana jumlah itu dirasanya belum cukup. Ada tujuh bandara dibangun dan tiga yang direvitalisasi untuk menyatukan NKRI, yang terdiri dari pulau-pulau.

"Tugas kita untuk mempersatukan di antaranya dengan konektivitas. Apa yang kita lakukan dengan Indonesia Sentris menjadi relevan," tegasnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini: