Sukses

Chen Laiwa, Nenek Terkaya di Daratan Tiongkok

Liputan6.com, Beijing - Forbes telah merilis daftar miliarder di Tiongkok untuk tahun 2018. Dalam China Rich List, terdapat nama menarik, yaitu Chen Laiwa di posisi 33.

Ia lahir tahun 1941 di Istana Musim Panas (Yihe Yuan) Beijing. Chen Laiwa merupakan keturunan dari keluarga aristokrat dari suku bangsa Manchu yang berpengaruh di Dinasti Qing, demikian dikutip dari China Daily, Sabtu (27/10/2018)

Menurut Forbes, harta sang miliarder tercatat sebesar USD 5,8 miliar atau Rp 88,1 trilun (USD 1 = Rp 15.201). Sumber kekayaannya adalah Fu Wah International Group yang bergerak di sektor real estate.

Ia mendirikan Fu Wah pada tahun 1988 di Hong Kong. Perusahaan tersebut adalah pengembang Chang'an Canal dan Mandarin Court.

Sebagai nenek terkaya di Tiongkok, dia memiliki reputasi cinta budaya dalam hidupnya. Sedari kecil ia sudah tertarik pada budaya Beijing, dan dia usia senior ia merupakan tokoh kebudayaan Tiongkok.

Chan Laiwa. Dok: Hello Smart Blog

Pada 1999, ia membangun Museum Cendana Merah (Red Sandalwood Museum) untuk mengenang kejayaan kota kelahirannya di masa lalu. Dia pun masih berperan sebagai kurator di museum tersebut. 

Miliarder ini juga ternyata teman dekat aktor laga Jackie Chan. Menurut sang aktor, Chan Laiwa berhasil menjadi kaya bukan karena properti, melainkan karena sifatnya.

"Kesuksesannya datang dari pemahamannya yang tulus pada rakyat, pada dedikasinya yang kukuh pada pendidikan dan seni dan komitmennya yang mendalam terhadap filantropis," demikian pengakuan Jackie Chan.

2 dari 3 halaman

Jack Ma Peringkat Pertama

CEO Alibaba Jack Ma mendapatkan peringkat pertama di daftar orang terkaya di Tiongkok. Kekayaannya yang berjumlah USD 34,6 miliar (Rp 525,9 triliun) melewati CEO Tencent Ma Huateng yang menyusul sebagai runner-up dengan harta USD 32,8 miliar (Rp 498,5 triliun).

Walau kembali sebagai orang terkaya, Jack Ma telah menegaskan akan turun dari jabatannya pada tahun depan. Ia bertekad ingin kembali mengajar. 

"(Pendidikan) adalah sesuatu yang bagus saya lakukan untuk sisa hidup saya," kata Jack Ma dalam sebuah sesi diskusi di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

Dikutip dari Antara, Jack Ma yang menolak disebut pensiun tetapi hanya rotasi pekerjaan, menilai pendidikan lebih penting daripada teknologi yang menjadi inti dari bisnis Alibaba yang telah digawanginya selama 19 tahun.

Dalam 30 tahun ke depan, manusia akan berhadapan dengan dampak buruk teknologi dan automasi yang mengancam hilangnya lapangan kerja.

Mesin, kata Jack Ma, mampu menggantikan pekerjaan manusia dengan sama baiknya bahkan lebih cepat.

Menurut dia, anak-anak perlu diajari untuk jeli melihat peluang dan melakukan inovasi-inovasi yang tidak dapat dilakukan mesin.

Untuk itu, Jack Ma akan lebih fokus pada pendidikan untuk kewirausahaan yang dinilainya adalah motor pertumbuhan ekonomi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: