Sukses

Trump Ingin Tambah Nilai Impor Barang China yang Kena Tarif

Liputan6.com, New York - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bakal naikkan tarif barang impor barang China senilai USD 267 miliar.

Angka tersebut di atas target pemerintah AS sekitar USD 200 miliar. Pemerintah AS mengumumkan akan berlakukan tarif atas barang China senilai USD 200 miliar usai ancaman balasan dari China.

Jika akhirnya dilakukan, ancaman terbaru Trump dapat akibatkan tarif atas semua barang China masuk AS. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami telah terapkan USD 50 miliar untuk teknologi. Sekarang kami menambah USD 200 miliar. Dan saya benci untuk mengatakan itu, tetapi dibalik itu, ada lagi USD 267 miliar, siap untuk berlaku, jika saya mau,” ujar dia, seperti dikutip dari laman Washington Post, Sabtu (8/9/2018).

Pernyataan Trump tersebut menekan wall street saat sambut akhir pekan. Indeks saham Dow Jones ditutup sekitar 77 poin atau 0,3 persen.

Adapun, periode komentar publik mengenai penetapan tarif berakhir pada Kamis.  Adapun produk berpotensi alami kenaikan tarif antara lain kulkas, mebel, dan busi, atau produk yang banyak dibeli konsumen. China pun akan membalas jika AS berlakukan tarif baru.

Sikap Trump yang tanpa kompromi terhadap China membuat sedikit peluang untuk penyelesaian dari kedua negara. Tambahan tarif AS akan memicu pembalasan China, meski volume impor AS lebih sedikit. Para pejabat China dapat tanggapi dengan menundukkan perusahaan AS yang beroperasi di China untuk pemeriksaan pajak yang tidak terduga, inspeksi barang dan bahkan boikot.

"Pertandingan akhir dalam perang dagang AS-China kini menjadi semakin sulit untuk dipahami ketika kedua pihak dapat meningkatkan serangan balik mereka," ujar Ekonom Universitas Cornell, Eswar Prasad.

Ia menegaskan, pernyataan Donald Trump berniat untuk lanjutkan eskalasi sanksi perdagangan hingga China menyerah. China pun isyaratkan pihaknya tidak berniat melakukannya.

AS dan China telah terapkan tarif hingga USD 50 miliar. Kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut melakukan negosiasi untuk kurangi ketegangan.

 

2 dari 2 halaman

Trump Ingin Tambah Sanksi, China Sebut Itu Pemerasan

Sebelumnya, Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trumpmenimbang bakal menggandakan sanksi yang diberikan ke China. Kubu Trump menyebut hal ini karena tingkah laku China sendiri.

Dilansir USA Today, setelah sebelumnya memberi sanksi tarif sebesar 10 persen pada barang-barang China yang bernilai total USD 200 miliar, sekarang Trump meminta Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer untuk menambah sanksi menjadi 25 persen.

"Kami sudah memberi kejelasan mengenai perubahan-perubahan yang China harus tahu. Dengan menyesal, ketimbang mengubah kelakuannya yang merugikan, China malah melakukan retaliasi pada pekerja, petani, peternak, dan pebisnis AS," kata Lighthizer dalam pernyataannya.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menyebut pihak China tidak akan tunduk. Secara singkat, ia menyebut sanksi AS sebagai "pemerasan."

AS dan China memang masih saling lempar bola terkait perang dagang. Praktik dagang China yang merugikan kekayaan intelektual AS dijadikan salah satu alasan Trump untuk menerapkan tarif. Tambahan sanksi ini menggemakan peringatan yang sebelumnya disampaikan Kepala Dewan Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow. 

"Saya pikir Presiden Xi saat ini tak punya niat untuk menindaklanjuti diskusi yang kita lakukan dan saya pikir Presiden tidak puas dengan China soal omongan-omongan itu, sehingga Beliau terus memberi tekanan, dan saya mendukung itu," ucap Kudlow.

Saat ini, ekonomi AS memang sedang meroket dengan pertumbuhan sebesar 4,1 persen di semester awal 2018 dan tingkat pengangguran sempat turun sampai 3,8 persen pada Mei lalu. Akan tetapi, tarif yang diberlakukan China melukai petani kedelai di daerah Midwest (Barat Tengah) dan daerah itu merupakan bagian penting dalam pemilu midterm AS pada November mendatang.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Xi Jinping Akui Tahu Virus Corona 2 Pekan Sebelum Ia Umumkan ke Publik
Artikel Selanjutnya
Intens Lawan Virus Corona, China Harap Tidak Ada Wuhan Kedua