Sukses

Rupiah Nyaris 14.000 per Dolar AS, Ini Reaksi Bankir

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk atau Bank BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan masih menunggu tindakan Bank Indonesia (BI) sebagai regulator dalam menangani nilai tukar rupiah yang terus melemah. Rupiah saat ini hampir menyentuh posisi Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). 

"Jadi kalau ditanya bagaimana rupiahnya, ya tergantung kebijakan BI. Jadi, ini menyangkut sekali dari kebijakan moneter BI. Apakah memang kurs di bawah Rp 14.000 akan terus dipertahankan dengan catatan misalnya dalam kurun waktu delapan bulan lagi tidak ada kenaikan rupiah," kata dia di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (23/4/2018)

Bahkan, menurut Jahja, pengaruh nilai tukar rupiah yang melemah juga akan berdampak pada sisi ekspor dan impor.

"Meskipun itu salah satu faktor, tapi yang kita mesti lihat adalah eskpor dan impor, negatif atau positif ketersediaan dolar di pasaran," tuturnya. 

Dia pun mengungkapkan, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) berencana akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini sebanyak tiga sampai empat kali. Pada akhirnya, The Fed telah menaikkan suku bunganya menjadi 1,5 persen hingga 1,75 persen atau 25 basis poin (bsp).

"Kita enggak tahu nantinya seperti apa Fed arahnya. Artinya, paling tidak masih ada dua kali lagi. Jadi, kalau diantisipasi seperti itu, bunga USD pasti akan bergerak naik. Dolar AS akan mempengaruhi juga currency lain di Euro, Poundsterling, Yen, dan lainnya," kata Jahja. 

"Biasanya pakemnya, kalau dolar AS naik, yang lain akan mengikuti menyesuaikan. Interest-nya berapa ya, tergantung justifikasi setiap negara," sambung Jahja. 

 

 

Reporter : Dwi Aditya Putra

Sumber : Merdeka.com

2 dari 2 halaman

BI Optimistis Rupiah Bisa Kembali Perkasa

Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah yang saat ini tengah terpuruk berpeluang menguat kembali (rebound) terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah saat ini nyaris menyentuh level 14.000 per dolar AS. 

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter BI, Rahmatullah mengungkapkan, sejak awal tahun hingga dua atau tiga hari lalu, kurs rupiah telah terdepresiasi hingga 2,23 persen. Namun, rupiah diperkirakan bisa terkerek naik. 

"Bisa saja (rebound), namanya juga nilai tukar dan yield itu bergerak sangat fluktuatif. Artinya bisa naik, bisa turun," kata Rahmatullah, di Gedung BI, Jakarta, Senin (23/4/2018).

Dia menjelaskan, penguatan kembali mata uang rupiah bisa terjadi dengan adanya pengaruh dan sentimen global.

Selain itu, lanjut Rahmatullah, saat ini pasar juga telah melakukan langkah-langkah antisipasi atas kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang diyakini akan lebih agresif.

Kendati demikian, dia bilang tidak menutup kemungkinan The Fed juga akan mengeluarkan pernyataan yang bisa mengurangi gejolak dan kekhawatiran yang saat ini tengah terjadi di pasar global, termasuk di pasar uang. 

"Bisa saja ke depan ada statement (The Fed) yang lebih dowfish," ujar Rahmatullah. 

 Tidak hanya itu, dia pun optimistis rupiah akan menguat kembali dengan meredanya kekhawatiran terkait perang dagang AS dan China. Dengan demikian, diharapkan The Fed akan kembali mempertimbangkan untuk menahan suku bunga.

"Kita kan sudah melihat beberapa kali yield-nya sudah mau naik 3 persen tapi turun lagi, dolar AS yang tadi menguat kemudian turun lagi. Jadi ini bisa sangat terbuka kemungkinan bahwa dolar AS secara global, kemudian akan kembali koreksi. Yield-nya tidak jadi tembus 3 persen," jelasnya. 

Selain itu, Rahmatullah mengatakan kondisi Indonesia saat ini masih memiliki fundamental perekonomian yang kuat. Terlebih saat ini lembaga pemeringkat internasioal Moody's Investor Service (Moody's) baru saja menaikkan rating utang Indonesia. Dalam riset terbarunya, peringkat Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia naik dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil.

 

Reporter : Yayu Agustini Rahayu Achmud

Sumber : Merdeka.com