Sukses

Cerita Arcandra Tahar Saat Bekerja di AS

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar membagi cerita saat dirinya bekerja di Amerika Serikat (AS). Di negara tersebut, pekerja menjadi modal (human capital) bukan lagi sebagai sumber daya.

Arcandra mengatakan, ‎saat dirinya bekerja di AS, pekerja menjadi modal yang dapat menciptakan hasil berlipat ganda. Sehingga setiap pekerja memiliki nilai untuk memajukan perusahaan.

‎"Bicara mengenai human capital di tempat saya pernah bekerja dulu, orang itu diukur berdasarkan rate. Kalau menghasilkan 1.000 per jam dia harus menghasilkan 2.000 untuk satu jam kemudian," kata Arcandra Tahar, saat menghadiri Learning Innovation Summit 2018, di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Pemikiran pekerja sebagai aset sudah menjadi tren perusahaan maju yang memiliki penghasilan besar. Ia mencontohnya, Facebook dan beberapa perusahaan lain yang bergerak di sektor teknologi informatika telah menjalankan teori tersebut.

"Ini tren di perusahaan seperti Facebook, jadi mereka bukan lagi dianggap sebagai resources yang digunakan tetapi sebagai capital," ujarnya.

Arcandra melanjutkan, jika prinsip pekerja sebagai aset diterapkan, maka ada kelonggaran waktu bekerja, tetapi jam kerja tetap sesuai dengan ketentuan. Artinya, manusia akan dihitung berdasarkan produktivitas.

Namun menurut Arcandra Tahar, penerapan pekerja sebagai aset belum bisa diterapkan pada birokrasi di Indonesia. Pasalnya masih ada k‎eterbatasan. 

"Contohnya saat puasa. Saya bilang ke atasan kalau puasa tidak bisa berpikir. Lalu saya disarankan jam 9 malam pulang jam 5 pagi. Ini menunjukan perubahan resources jadi capital," tandasnya.

1 dari 2 halaman

Pelatihan Pekerja Pakai Aplikasi

Dalam acara yang sama, Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina akan mengubah sistem pelatihan untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM). ‎

Sebelumnya menggunakan metode pertemuan langsung menjadi jarak jauh dengan pakai teknologi informasi melalui aplikasi yang dipasang pada gawai atau gadget masing-masing pekerja.

"Implementasi kerja sama lebih real. Nanti sistem pembelajaran, di Pertamina dengan mobile apps di mana saja dengan gadget," kata Nicke.

Nicke menuturkan, manajemen Pertamina terbantu dengan memakai metode tersebut karena tidak terbatas waktu dan tempat. Apalagi Pertamina memiliki 65 ribu karyawan. Pelatihan karyawan dan pekerja mitra dapat dilakukan cepat.

‎"Kami bisa membantu. Karyawan sekitar 65 ribu belum lagi pekerja lain. Kalau kami masih pendekatan lama dengan cara training enggak akan selesai 50 persen belum teraplikasi. Dengan aplikasi ini kami harapkan bisa mempercepat pembelajaran di lingkungan Pertamina," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Arcandra: Investor Asing Kaget dengan Reformasi Sektor Migas RI
Artikel Selanjutnya
Reformasi Kebijakan Hulu Migas RI Dapat Apresiasi di AS