Sukses

Bursa Asia Dibuka Menguat, Nikkei Melonjak 2 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia reli pada awal perdagangan saham Selasa pekan ini mengikuti tren kenaikan di bursa Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Bursa saham bergerak di zona positif karena kekhawatiran akan perang dagang mulai mereda.

Mengutip CNBC, Selasa (6/3/2018), indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,03 persen atau 426,97 poin. Dolar AS merayap naik terhadap yen karena kekhawatiran akan perang dagang akibat kebijakan yang didengungkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Saham-saham yang berorientasi ekspor naik pada perdagangan hari ini. Sektor otomotif dan teknologi menjadi pendorong kenaikan bursa Jepang.

Di Korea Selatan, indeks patokan Kospi naik 1,16 persen di pagi hari. Seluruh sektor berada di zona hijau termasuk produsen baja.

Sementara di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 1,29 persen dengan 12 sub indeks berada di wilayah positif.

Sektor energi menjadi pendorong penguatan bursa di Australia pada awal hari ini.

1 dari 2 halaman

Wall Street Kembali Menguat

Di AS, Wall Street ditutup menguat seiring meredanya kekhawatiran terjadinya perang dagang di pasar global. Para investor bertaruh bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menurunkan ancamannya untuk memberlakukan tarif impor baja dan aluminium.

Para ahli juga menilai kenaikan harga minyak dan pemilu di Italia turut mendorong ketiga indeks utama menguat.

Melansir laman Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 336,7 poin atau 1,37 persen menjadi 24.874,76. Sementara indeks S&P 500 naik 29,69 poin atau 1,10 persen menjadi 2.720,94 dan Nasdaq Composite bertambah 72,84 poin atau 1 persen menjadi 7.330,71.

Investor mulai mengamati ancaman Trump sebagai alat negosiasi setelah muncul tweet bahwa Kanada dan Meksiko dapat menghindari usulan tarif jika mereka menyetujui perundingan Free Trade Agreement (NAFTA) Amerika Utara.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Merosot Seret IHSG Turun 23,73 Poin
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Melemah Dibayangi Kekhawatiran Perang Dagang