Sukses

Bakal Merger, BTPN Akan Naik Kelas

Liputan6.com, Jakarta - Rencana merger PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia akan menciptakan bank besar. Diperkirakan dengan merger tersebut dapat mendorong BTPN naik kelas menjadi Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) 4 dengan modal inti sekitar Rp 27 triliun-Rp 28 triliun.

Direktur PT Bnak Tabungan Pensiunan Nasional Tbk Anika Faisal mengatakan, merger BTPN dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia juga mendukung upaya program pemerintah untuk konsolidasi perbankan.

Tak hanya itu, merger tersebut juga membuat bank saling bersinergi. Apalagi menurut Anika, target segmen bisnis yang dijalankan BTPN dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia berbeda sehingga tidak saling tumpang tindih. PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia lebih fokus ke segmen korporasi sedangkan BTPN lebih ke ritel.

Kedua bank tersebut juga memiliki pemegang saham sama yaitu Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMCB) dengan kepemilikan di BTPN skeitar 40 persen dan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia sekitar 89 persen.

"Seharusnya kami memandang dari BTPN lebih banyak sinergi yang dibangun. Kekutan kami di ritel dan membangun digital business. Hal positif bisa disinergikan. Pemegang saham SMBC termasuk bank terbesar ketiga di Jepang. Kalau pahami banyak uncertainty global pemegang saham yang kuat sangat penting. Punya komitmen kembangkan BTPN dan pasar ekonomi di Indonesia," jelas Anika, Senin (29/1/2018).

Anika menambahkan, merger tersebut menciptakan bank lebih besar mengingat kebutuhan modal makin besar. Ini juga dapat membantu layanan nasabah di Indonesia. "Bank lebih besar itu penting karena kebutuhan modal. Kebutuhan investasi makin besar sehingga bisa makin terlayani lebih banyak nasabah," kata Anika.

Dengan ada merger ini diharapkan konsolidasi bank menjadi lebih kuat. Diperkirakan modal inti bank menjadi lebih besar ke depan sehingga dorong perseroan jadi bank BUKU 4. Seperti diketahui, bank BUKU 4 merupakan bank dengan modal inti paling sedikit Rp 30 triliun.

"Equity Rp 16,8 triliun dan mereka (Sumitomo Mitsui Indonesia-red) sekitar Rp 8 triliun. Modal inti akan jadi Rp 27 triliun-Rp 28 triliun. Tahun depan selesai sudah jadi bank BUKU 4," kata Direktur Keuangan BTPN Arief Harris Tanjung.

Anika menambahkan, pihaknya belum bisa memastikan kapan merger tersebut selesai. Saat ini pihaknya baru menerima surat dari pemegang saham pengendali Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) pada 25 Januari 2018. Ada proses dan tahapan yang dilalui untuk realisasikan merger tersebut.

"Kami proses formal lakukan assesment mengenai rencana tersebut. Akan banyak elemen stakeholder yang hubungi. Kerja sama dengan regulator sehingga bisa dilaksanakan sebaik-baiknya," ujar dia.

Terkait akibat merger tersebut dengan posisinya sebagai perusahaan publik, Anika belum dapat menjelaskan lebih detil ke depannya. "Delisting bukan sesuatu mudah dan gampang. Regulator dukung perusahaan publik. Tidak ada diskusi mengenai wacana delisting," kata dia.

Seperti diketahui, pemegang saham BTPN per 31 Desember 2017 antara lain Sumitomo Mitsui Banking Corporation 40 persen, Summit Global Capital Management sebesar 20 persen, publik sekitar 38,37 persen, dan saham treasury sekitar 1,63 persen.

Saham BTPN pun melonjak tajam dengan ada kabar merger tersebut. Saham BTPN naik 24,90 persen ke posisi Rp 3.260. Total frekuensi perdagangan saham 269 kali dengan nilai transaksi Rp 4,3 miliar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Bank Sumitomo Indonesia Bakal Merger dengan BTPN

Sebelumnya, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menerima surat dari pemegang saham perseroan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) terkait rencana merger BTPN dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia. Rencana merger itu diharapkan akan mendukung sinergi konsolidasi industri perbankan.

BTPN telah menerima surat rencana merger tersebut dari pemegang saham Sumitomo Mitsui Banking Corporation pada 25 Januari 2018. Perseroan akan melakukan pengkajian dan persiapan teknis untuk proses merger tersebut.

Merger ini sejalan dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan memaksimalkan sinergi sektor keuangan di Indonesia.

"Kami proses formal lakukan assesment mengenai rencana tersebut. Akan banyak elemen stakeholder yang hubungi. Kerja sama dengan regulator sehingga bisa dilaksanakan sebaik-baiknya," ujar Direktur BTPN Anika Faisal di Jakarta, Senin 29 Januari 2018.

Anika menuturkan, pihaknya menyambut positif rencana merger tersebut. Merger itu dinilai akan mendukung upaya program pemerintah untuk konsolidasi industri perbankan dan membuat bank menjadi lebih besar sehingga dukung ekonomi Indonesia. Apalagi potensi Indonesia dinilai pasar yang besar untuk digarap pelaku industri.

Anika menuturkan, merger ini juga saling mendukung bisnis kedua bank tersebut. Ini mengingat PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia fokus pada segmen korporasi sedangkan BTPN ke segmen ritel. Saat ini SMBC memiliki 89 persen saham di PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia dan 40 persen di BTPN.

"Menarik. Eksisting SMBC Indonesia Indonesia fully corporate bank tidak ada overlap kita di ritel," tegas dia.

Anika memastikan, proses merger ini akan mengikuti aturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, pihaknya tetap akan memberikan informasi ke pemegang saham publik mengenai proses merger itu.

Namun, pihaknya belum menjelaskan lebih detail mengenai posisi perseroan sebagai perseroan publik ke depan.

"Proses memakan waktu. Tahapannya cukup banyak. Transparansi media dan keterbukaan di publik. Ada tahapan dari pekerjaan rumah kita. Assesment entitas baru ada banyak hal yang dikerjakan. Entitas baru memang tetap lalui proses yang dilaksanakan mulai dari independen assesment, pihak OJK dan RUPS," ujar Anita.

Anita menambahkan, meski ada proses merger ini, pihaknya akan tetap jalani bisnis seperti biasa.

Saat ini BTPN fokus mengembangkan digitalnya dengan layanan Jenius. Hingga akhir 2017, account Jenius mencapai 300 ribu account.

Artikel Selanjutnya
Dua Emiten Jadi Pendatang Baru di Pasar Saham Indonesia
Artikel Selanjutnya
Pilih-Pilih Reksa Dana Saat IHSG Bergejolak