Sukses

Pasokan Garam di Pasar Tradisional Masih Langka

Liputan6.com, Jakarta - Pasokan garam halus di pasar tradisional masih langka. Akibatnya, para pedagang beralih menjual garam kasar dan garam balok. Kelangkaan garam ini juga mendorong kenaikan harga. 

Salah satu pedagang di Pasar Nyamuk, Cipondoh, Tangerang, Yanti (57), menjelaskan, pasokan garam halus sudah terhenti sejak beberapa waktu lalu. “Garam halus tidak tidak ada. Adanya garam ini nih (balok) sama kalo kemasan ya yang kasar gini.” Ujar dia kepada Liputan6.com Senin (7/8/2017).

Untuk garam balok, mereka menjual dengan harga Rp 15 ribu per pak yang berisi 20 balok. Untuk garam kasar, dibanderol Rp 6.000 per kantong.

Di sebuah toko kelontong yang juga terletak di daerah Pasar Nyamuk terdapat garam halus. Namun harga dari garam halus tersebut melonjak hingga 250 persen.

Bambang (58) penjual di toko kelontong tersebut menyebutkan, ia menjual garam halus di kisaran Rp 70 ribu per sak. Satu sak terdiri dari 40 bungkus. Biasanya, ia menjual garam halus di kisaran Rp 20 ribu per sak.

“Ya mau tidak mau kita jual Rp 2.000 sebungkus. Dari sana aja udah segitu. Untung dikit doang,” ujar Bambang. 

Hal yang sama juga terjadi di Pasar Grogol, Jakarta Barat. Salah seorang pedagang sembako, Robi (40), mengaku kini hanya bisa menjual garam meja merek D5 dan cap Laba-laba yang sebelumnya tidak pernah dijajakan. Harga garam merek tersebut bahkan saat ini sudah ‎melonjak 150 persen menjadi Rp 5.000 per bungkus.

"Garam agak susah sekarang. Kami jual garam merek D5 dan Laba-laba‎ yang saat ini harganya Rp 5.000 per bungkus, padahal tadinya cuma Rp 2.000. Sebelumnya kami tidak pernah jual lo," kata Robi saat berbincang dengan Liputan6.com di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Jumat (4/8/2017).

Robi mengungkapkan, selama ini dia hanya menjual garam meja dengan kualitas agak bagus merek Dolpin, Refina, dan Kepiting yang dijual seharga Rp 4.500 per bungkus.

"Tapi karena barangnya tidak ada, terpaksa jual garam merek D5 dan Laba-laba. ‎Dengar-dengar sebelum hilang, harganya sudah tembus Rp 8.000 per bungkus," ucap pria asal Jakarta itu. (Fransiska Wahyuning)

Tonton Video Menarik Berikut Ini: