Sukses

November, Impor RI Melonjak Mulai dari Ponsel hingga Senjata

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja impor Indonesia pada November 2016 mengalami kenaikan 9,88 persen menjadi US$ 12,66 miliar dibanding bulan yang sama tahun lalu senilai US$ 11,52 miliar. Penyebabnya karena terjadi peningkatan impor ponsel, komputer jinjing, peralatan infrastruktur dari Malaysia hingga impor senjata dan amunisi.

"Kinerja impor kita di November naik 9,88 persen mengikuti kenaikan kinerja ekspor walaupun tidak sespektakuler yang naik sampai 21,34 persen," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jas BPS, Sasmito Hadi Wibowo di kantornya, Jakarta, Kamis (15/12/2016).

Sementara dibanding realisasi Oktober 2015, kinerja impor November ini menanjak 10 persen. Impor minyak dan gas (migas) melonjak 13,89 persen dan impor barang-barang non migas Indonesia dari negara lain mencapai 9,39 persen.

Sasmito menyebut, ada barang-barang impor non migas yang mengalami kenaikan di November terhadap Oktober 2016, antara lain mesin dan peralatan listrik senilai US$ 210,3 juta. Terdiri dari impor ponsel, termasuk yang dirakit di Indonesia.

Lanjutnya, mesin dan peralatan mekanik yang impornya naik menjadi US$149,8 juta, ter‎diri dari netbook, dan peralatan infrastruktur yang didatangkan dari Malaysia. Adapula impor perhiasan atau permata yang naik US$ 115,3 juta, termasuk untuk diproses di Indonesia dan diekspor lagi, perangkat optik US$ 86,7 juta.

"‎Juga impor senjata dan amunisi yang mengalami kenaikan di November 2016 senilai US$ 51,3 juta," terang Sasmito.

Secara total Januari-November ini, diakuinya, nilai impor Indonesia mencapai US$ 122,9 miliar atau turun 5,94 persen dibanding periode yang sama tahun lalu senilai US$ 130,6 miliar. Impor non migas tercatat turun 1,87 persen dari US$ 107,8 miliar di Januari-November 2015 menjadi US$ 105,8 miliar di sebelas bulan 2016.

"Paling banyak impor non migas mesin-mesin dan pesawat mekanik US$ 19,09 miliar dan mesin atau peralatan listrik US$ 13,95 miliar," jelasnya.

Pangsa impor non migas Indonesia, terbesar dari China senilai US$ 27,55 miliar (26,04 persen), Jepang US$ 11,84 miliar (11,20 persen), dan Thailand yang memasok US$ 7,95 miliar (7,52 persen). Impor Indonesia dari negara ASEAN selama Januari-November 2016 tercatat US$ 22,82 miliar (21,57 persen) dan Uni Eropa US$ 9,72 miliar (9,18 persen).

"Memang masih tidak berubah, impor kita paling banyak dari China. Meskipun impor non migas turun secara total, tapi dari China naik terus. Kalau impor kita dari Thailand kebanyakan mobil dan gula," Sasmito menandaskan. (Fik/Gdn)