Sukses

Selandia Baru Diminta Bangun Pabrik Olahan Susu di RI

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian Saleh Husin ingin ada pengusaha dari Selandia Baru membuka industri olahan susu di Indonesia. Selandia Baru memiliki industri unggulan produk olahan susu (dairy) yang diekspor ke Indonesia.

Nilai produk makanan-minuman, termasuk dairy, yang berasal dari negara itu mencapai US$ 456 juta. Sedangkan produk dari Indonesia yang dikapalkan ke Selandia Baru antara lain makanan ternak, besi baja, karet olahan dan pupuk.

"Nilai produk dairy dari Selandia Baru mencapai Rp 6 triliun yang menandakan Indonesia pasar penting bagi mereka. Maka kita minta mereka untuk berinvestasi langsung di Indonesia terutama di industri dairy, jangan cuma jadi pasar," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Saat ini, lanjut Saleh, adalah saat yang tepat bagi investor global menanam modal di Indonesia. Beberapa paket kebijakan ekonomi pun telah digulirkan untuk mendorong aktivitas industri.

Menurut dia, Selandia Baru dapat menjadikan Indonesia sebagai basis produksi susu untuk dipasarkan ke pasar domestik dan pasar ASEAN. Investasi dari negara itu dapat dilakukan dengan menggandeng perusahaan lokal.

Kerjasama investasi kedua negara juga sejatinya menguntungkan Selandia Baru karena dapat mengatasi salah satu kendala yang dihadapi peternakan sapi yaitu pasokan makanan ternak.

"Saat musim dingin, ketersediaan rumput di sana terbatas padahal itu pakan utama sapi," lanjutnya.

Masalah tersebut dapat dibantu diatasi dengan memberikan pakan lain yakni bungkil kelapa sawit atau Palm Kernel Expeller (PKE) yang merupakan salah satu produk sampingan CPO.

Indonesia sendiri merupakan produsen CPO terbesar di dunia dan menghasilkan PKE dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan oleh peternak sapi di Selandia Baru untuk tambahan pakan ternaknya.

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, selain itu, kedua negara telah bekerja sama dalam pengembangan pembangkit listrik panas bumi di Indonesia.

"Mereka punya keunggulan teknologi geothermal yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri ketenagalistrikan di Indonesia yang akan memasok peralatan bagi pembangkit listrik panas bumi," kata dia.

Sejauh ini, investasi Selandia Baru terus melesat. Jika pada 2013 penanaman modal dari negara itu hanya US$ 446 ribu dengan 11 proyek, maka pada 2014 melonjak menjadi US$ 17,5 juta dengan 6 proyek. Sementara hingga pertengahan tahun ini saja, investasi Selandia Baru tercatat US$ 14 juta yang tersebar di 6 proyek.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Selandia Baru Tim Groser mengajak Indonesia bergabung dalam kerjasama Trans-Pacific Partnership (TPP). Perjanjian TPP melibatkan 12 negara dengan AS menjadi motor.

Saat ini empat anggota ASEAN bergabung dalam TPP, yaitu Brunei, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Anggota lain adalah Australia, Kanada, Cile, Jepang, Meksiko, Selandia Baru, Peru, dan AS. (Dny/Zul)