Sukses

Ekonomi Suram, Harga Emas Terus Meroket

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas diprediksi akan terus menguat pada pekan ini. Keputusan China yang dengan sengaja melemahkan (devaluasi) mata uang Yuan masih membawa kekhawatiran ke pasar keuangan global.

Hal membuat investor bergegas mengalihkan investasinya ke emas. Pagi ini, harga emas tercatat menguat ke level US$ 1.162 per ounce, dengan level tertinggi US$ 1.165 per ounce.

"Tapi secara jangka panjang, harga emas masih tertekan turun. Meski ada potensi naik selama masih di atas US$ 1.150 per ounce. Bisa rebound ke US$ 1.180-US$ 1.190 per ounce," kata Kepala Riset PT Monex Investindo Ariston Tjendra saat dihubungi Liputan6.com, Senin (24/8/2015).

Analis Komoditas Cetral Capital Futures, Wahyu Tribowo Laksono, menuturkan selama ini harga emas tertekan karena adanya rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan pada September 2015.

Namun, ketika mendekati waktu kenaikan suku bunga, pasar menjadi ragu dan The Fed pun dalam pertemuannya terakhir nampak belum yakin soal kapan akan menaikkan suku bunga mengingat kondisi saat ini tengah tidak kondusif.

Adanya currency war (perang mata uang) dipertegas devaluasi yuan membuat dolar AS menjadi beban jika menguat demi membantu perdagangan AS.

"Selain kebutuhan perdagangan AS, masalah inflasi juga sebagai ancaman ditandai dengan anjloknya harga minyak. Jadi kenaikan suku bunga dipertanyakan. Belum lagi pasar saham AS sedang tertekan sehingga wacana kenaikan suku bunga bisa jadi justru kontraproduktif terhadap kestabilan pasar," tuturnya.

Dia menambahkan, ancaman krisis ekonomi global juga membuat emas sebagai safe haven menarik investor. Secara teknikal emas dalam jangka menengah cukup oversold di dekat area US$ 1.000 berpotensi rebound (berbalik naik).

"Jadi semua ini membuat emas cukup wajar menguat. Selama berada di atas level US$ 1.109 emas berpotensi naik ke area US$ 1.206-US$ 1.233 per ounce," papar Ariston. (Ndw/Ahm)

Loading