Ekonomi Lambat dan Rupiah Anjlok, Tanda RI Masuk Resesi?

Resesi ekonomi di sebuah negara ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menyusut atau mengalami perlambatan dalam jangka panjang.

Diterbitkan 18 Juni 2015, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah berupaya memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tidak kembali terperosok ke dalam jurang resesi, termasuk menahan jatuhnya kurs rupiah terhadap dolar AS semakin besar. Salah satu langkah dengan meningkatkan belanja pemerintah dan stimulus fiskal.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro, resesi ekonomi di sebuah negara ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menyusut atau mengalami perlambatan dalam jangka panjang. Konsumsi domestik melemah serta pertumbuhan ekspor negatif.  

"Tren perlambatan ekonomi sudah terjadi sejak 2012, tapi realiasi di kuartal I 2015 sebesar 4,7 persen masih relatif tinggi dibanding negara lain yang perekonomiannya jauh lebih besar dari Indonesia," ucap dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, Kamis (18/6/2015).

Pemerintah, kata Bambang, bekerja keras membalikkan tren pelemahan ekonomi menjadi perbaikan di tahun ini dengan memacu pengeluaran pemerintah dan memperkuat stimulus fiskal termasuk reformasi di sektor perpajakan.

"Dengan begitu, kita bisa mendapatkan penerimaan (negara) yang lebih baik dan punya ruang untuk melakukan stimulus fiskal lebih besar. Stimulus fiskal dan investasi pemerintah yang lebih besar akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa menghindarkan kita dari resesi. Kita upayakan jangan sampai terjadi (resesi)," terang dia.
    
Dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah, Bambang memastikan akan terus mereformasi kebijakan struktural guna mengurangi defisit transaksi berjalan. Kebijakan ini sangat esensial bagi Indonesia dalam menjaga kurs rupiah.

Paling penting, dia mengatakan, pemerintah bersama regulator terkait harus melakukan pendalaman pasar di sektor keuangan untuk memperkuat basis investor domestik, baik di portofolio saham, surat utang negara atau rupiah.

"Supaya tidak terlalu bergantung arus modal asing. Kita tetap menganggap penting arus modal asing, tapi jangan sampai tergantung sekali sehingga ketika ada gejolak di luar dan investor berpikir keluar sebentar dari Indonesia, langsung menimbulkan gejolak di pasar keuangan kita," jelas Bambang.(Fik/Nrm)

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6