Pasar Uang RI Dipermainkan, Rupiah Bisa Bergerak Liar

Ekonom mendesak BI harus segera intervensi di pasar valuta asing (valas) karena selama ini hanya intervensi di pasar rupiah.

Diterbitkan 12 Maret 2015, 06:20 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernyataan Bank Indonesia (BI) bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp 13.000 sangat bagus untuk ekspor impor Indonesia menuai tanggapan negatif dari Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Lana Soelistianingsih. Dia berpendapat, dengan adanya pernyataan tersebut, investor atau pemegang dolar AS akan terus mempermainkan pasar uang Indonesia untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

"BI yang menganggap level rupiah ini aman, nyaman dan baik buat ekspor dan impor justru bikin pasar bermain-main di sana. Eksportir yang pegang dolar AS, tidak mau dijual," ujar dia, di Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Menurut Lana, pelemahan rupiah memang tidak sendiri karena memang dolar AS terus menguat terhadap semua mata uang di Asia dan bahkan di dunia. Jika dilihat, mata uang enam negara di Asia mengalami pelemahan, baik itu Yen Jepang, Peso Filipina, Won Korea, dan Baht Thailand. Namun jika dilihat lebih dalam, pelemahan yang dialami oleh rupiah paling dalam jika dibanding dengan mata uang Asia lainnya. Depresiasi rupiah secara year to date mencapai 5,4 persen.

"Rupiah melemah paling dalam diantara negara tersebut, sehingga tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang stabil," tegasnya.

Atas dasar itu, dia mendesak BI harus segera intervensi di pasar valuta asing (valas) karena selama ini hanya intervensi di pasar rupiah. BI disarankannya untuk menerbitkan obligasi valas supaya suplai valas bertambah.

"BI dapat intervensi lebih agresif di pasar valas untuk mengantisipasi tren permintaan dolar AS yang tinggi di Juni guna pembayaran utang. Jika tidak, maka bulan keenam ini rupiah akan lari liar. Dan jika tidak diintervensi bisa dipermainkan spekulan," kata Lana. Sayangnya dia enggan memprediksi pergerakan rupiah jika BI lepas tangan mengitervensi pelemahan kurs.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp 13.000 per dolar sangat bagus untuk perkembangan ekspor dan impor Indonesia. "Kalau mempertimbangkan faktor, kurs rupiah saat ini cukup oke untuk ekspor dan mengurangi laju impor terhadap barang-barang konsumtif," ujar dia.

Perry menjelaskan, Indonesia masih mencatatkan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan masih berada di angka 3 persen pada tahun ini karena ada pembangunan infrastruktur yang membutuhkan impor bahan baku. "Kalau bisa ditekan impor bahan bakunya, level defisit transaksi berjalan di 2015 bisa berkurang 2,8 persen," terangnya.

Level defisit transaksi berjalan tahun ini, sambung dia, masih bagus untuk investor mengingat defisit transaksi berjalan saat ini lebih mengarah pada kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan konsumsi.

"Kami akan terus memastikan nilai tukar bergerak stabil sesuai fundamentalnya. Kalaupun ada pelemahan, lebih tertata, gradual dan nggak menimbulkan kepanikan. Sebab kita nggak segan-segan melakukan intervensi di pasar valas apabila tekanan berlebihan," tutur Perry.

Data valuta asing Bloomberg, Rabu (11/3/2015), menunjukkan nilai tukar rupiah masih berada di kisaran 13.200 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level 13.196,30 per dolar AS. Rupiah pun bergerak fluktuaktif hingga sore di kisaran 13.145 per dolar AS hingga 13.245 per dolar AS. (Fik/Gdn)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6