Warga Yogya Berharap Hujan lebat Agar Abu Kelud Cepat Hilang

jika hanya terjadi hujan dengan intensitas ringan, tidak akan membuat abu yang menempel di atap rumah dan pepohonan hilang seluruhnya.

oleh Liputan6 diperbarui 16 Feb 2014, 15:52 WIB
Warga DI Yogyakarta berharap turun hujan lebat untuk mengurangi abu vulkanik di lingkungannya.

Salah satu warga Purwanggan Pakualaman, Hary S mengatakan, sangat berharap hujan lebat agar abu vulkanik di genteng rumahnya dan di pepohonan dapat segera hilang.

Hal yang sama juga diungkapkan Risma, warga Balecatur, Gamping, Sleman yang menanti hujan lebat turun di sekitar wilayahnya. Risma menyebut jika hanya terjadi hujan dengan intensitas ringan, tidak akan membuat abu yang menempel di atap rumah dan pepohonan hilang seluruhnya.

Risma juga mengatakan angin kencang membuat abu bertebaran sehingga cukup menganggu kebersihan. "Saya inginnya ya hujan lebat biar abu yang di atas rumah saya dapat cepat hilang. Ya lebat. Kalau biasanya gak pengin hujan lebat ya sekarang penginnya malah hujan lebat," kata Risma kepada liputan6.com Minggu (16/02/2014).

Sementara itu Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG DIY, Tony Agus Mulya mengatakan, dalam waktu 7 hari ke depan cuaca di DIY akan terjadi hujan dengan intensitas ringan dan singkat di beberapa tempat. Namun penyebaran hujan ini tidak merata di seluruh wilayah DIY.

"7 hari kedepan intensitas hujan ringan masih terjadi dan tidak merata. Waktu hujan juga masih dengan waktu yang singkat. Karena telah melewati masa puncak musim hujan", kata Tony kepada Liputan6.com Minggu (16/02/2014).

Namun, Tony menjelaskan, selama 7 hari ke depan bisa terjadi gangguan cuaca jangka pendek yang bisa membuat hujan lebat. "Masih memungkinkan adanya gangguan cuaca jangka pendek tapi untuk hari ini belum terpantau," kata Tony.

Mengenai angin kencang yang melintas di Yogya, Tony mengatakan, ini disebabkan adanya perbedaan suhu di permukaan tanah.

"Kalau pagi cuacanya cerah, menjelang siang akan terjadi angin kencang di dekat permukaan tanah karena perbedaan suhu di permukaan. Kecepatannya kurang-lebih 20 km per jam di beberapa tempat. Ya cukup mengganggu karena ada debu", kata Tony. (Yus)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya